Presentasi Kelompok 2 (ADKL B 2015) : Pengendalian Vektor Nyamuk

Anggota Kelompok : Arnadi, Nurvita Sari, Tika Sari, Notaris Karo Karo, El Vinta Rahmi, Andri Kurnia

Pendahuluan

Vektor adalah anthropoda yang dapat menimbulkan dan menularkan suatu Infectious agent dari sumber Infeksi kepada induk semang yang rentan. Bagi dunia kesehatan masyarakat, binatang yang termasuk kelompok vektor yang dapat merugikan kehidupan manusia karena disamping mengganggu secara langsung juga sebagai perantara penularan penyakit, seperti yang sudah diartikan diatas.

Adapun dari penggolongan binatang ada dikenal dengan 10 golongan yang dinamakan phylum diantaranya ada 2 phylum sangat berpengaruh terhadap kesehatan manusia yaitu phylum anthropoda seperti nyamuk yang dapat bertindak sebagai perantara penularan penyakit malaria, demam berdarah, dan phylum chodata yaitu tikus sebagai pengganggu manusia, serta sekaligus sebagai tuan rumah (hospes), pinjal Xenopsylla cheopis yang menyebabkan penyakit pes.

Sebenarnya disamping nyamuk sebagai vektor dan tikus binatang pengganggu masih banyak binatang lain yang berfungsi sebagai vektor dan binatang pengganggu. Namun kedua phylum sangat berpengaruh didalam menyebabkan kesehatan pada manusia, untuk itu keberadaan vektor dan binatang penggangu tersebut harus di tanggulangi, sekalipun demikian tidak mungkin membasmi sampai keakar-akarnya melainkan kita hanya mampu berusaha mengurangi atau menurunkan populasinya kesatu tingkat tertentu yang tidak mengganggu ataupun membahayakan kehidupan manusia.

Dalam hal ini untuk mencapai harapan tersebut perlu adanya suatu managemen pengendalian dengan arti kegiatan-kegiatan/proses pelaksanaan yang bertujuan untuk menurunkan densitas populasi vektor pada tingkat yang tidak membahayakan. Pada penulisan ini sebelum membahas metode pengendalian secara sederhana pemberantasan vektor malaria, terlebih dahulu disampaikan secara pengertian serta ciri-ciri vektor dan binatang pengganggu.

Selengkapnya :

Presentasi Kelompok 1 (ADKL A 2015): Pengendalian Vektor Tikus

Anggota kelompok :

Zahra Katrina Aulia; Siska Diana Sari; Fadilah Habibul Hamda; Retno Wulandari; Mitbasman Mikra; Mesha Ferzica Nanda; Nurhadi Hanif; Riani Putri Pertiwi; Elrisa Thiwa Nadella.

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Tikus adalah hewan mengerat (rondensia) yang lebih dikenal sebagai hama tanaman pertanian, perusak barang digudang dan hewan penggangu yang menjijikan di perumahan. Belum banyak diketahui dan disadari bahwa kelompok hewan ini juga membawa, menyebarkan dan menularkan berbagai penyakit kepada manusia, ternak dan hewan peliharaan.

Tikus merupakan masalah rutin di Rumah Sakit, karena itu pengendaliannya harus dilakukan secara rutin. Hewan mengerat ini menimbulkan kerugian ekonomi yang tidak sedikit, merusak bahan pangan, instalasi medik, instalasi listrik, peralatan kantor seperti kabel-kabel, mesin-mesin komputer, perlengkapan laboratorium, dokumen/file dan lain-lain, serta dapat menimbulkan penyakit.

Beberapa penyakit penting yang dapat ditularkan ke manusia antara lain, pes, salmonelosis, leptospirosis, murin typhus.

Selengkapnya

Silahkan didiskusikan melalui komentar.

Faktor Determinan Intensi Perilaku Pengelolaan Sampah Berkelanjutan Pada Siswa Sekolah Dasar di Kota Padang

ABSTRAK

Penelitian ini meneliti intensi perilaku pengelolaan sampah berkelanjutan pada siswa sekolah dasar menggunakan kerangka Teori Perilaku Berencana. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan intensi perilaku pengelolaan sampah berkelanjutan. Populasi dan sampel dalam penelitian ini adalah siswa sekolah dasar di Kota Padang, Sumatera Barat. Data yang dikumpulkan untuk penelitian ini dianalisis menggunakan Structural Equation Modelling (SEM). Hasil penelitian ini menyatakan bahwa pengetahuan tentang pengelolaan sampah berkelanjutan memiliki hubungan yang signifikan dengan sikap terhadap pengelolaan sampah berkelanjutan. Sikap terhadap pengelolaan sampah berkelanjutan, norma subjektif dan perceived behavioral control (PBC) juga memiliki hubungan yang signifikan dengan intensi perilaku pengelolaan sampah berkelanjutan. Studi ini telah membantu dalam memahami kekuatan relatif dari faktor determinan intensi perilaku pengelolaan sampah berkelanjutan. Kekuatan hubungan yang paling besar adalah antara PBC dengan intensi, diikuti oleh hubungan antara norma subjektif dengan intensi, dan yang paling lemah adalah hubungan antara sikap dengan intensi. Temuan ini memiliki implikasi penting bagi pihak sekolah serta bagi para pembuat kebijakan.

Kata Kunci : Pengelolaan Sampah Berkelanjutan, Intensi, Perilaku.

Baca selengkapnya di : Jurnal Kesehatan Masyarakat Andalas

Send by Email, Membantu Mengurangi Pengeluaran Mahasiswa

Dalam proses belajar mengajar di perguruan tinggi bisa dikatakan hampir semua mata kuliah memberikan tugas kepada mahasiswa baik berupa makalah, resume materi kuliah ataupun laporan-laporan kegiatan. Sudah menjadi tradisi tugas, resume atau laporan-laporan tersebut dikumpulkan dalam bentuk hard copy dan dijilid rapi dengan harapan dapat menarik simpati dari dosen bersangkutan. Sama halnya dengan proses bimbingan pembuatan tugas akhir yang bisa berlangsung berkali-kali.

Dengan adanya kemajuan teknologi informasi yang kalau bisa kita manfaatkan dengan cerdas, pengeluaran mahasiswa untuk pembuatan tugas dalam bentuk hard copy tersebut semestinya bisa kita tekan seminimal mungkin. Salah satunya adalah dengan meminta mereka mengirim tugas-tugas tersebut ke dosen lewat email (send by email). Kalau kita coba kalkulasikan biaya yang bisa dihemat oleh mahasiswa dalam satu semester kira-kira :

10(mata kuliah) x 2(penugasan)x(Rp.3.000(penjilidan)+Rp.4.500(foto copy) = Rp.150.000,-

Baca lebih lanjut

Tips dan Panduan Menyusun Pembahasan Hasil Penelitian

Pembahasan hasil penelitian adalah sub-bab yang paling orisinal dalam laporan penelitian, termasuk skripsi, Tesis, Disertasi. Pada sub-bab ini, Peneliti wajib mengulas hasil penelitian yang diperolehnya secara panjang lebar dengan menggunakan pandangan orisinalnya dalam kerangka teori dan kajian empirik yang terdahulu. Jogiyanto (2004:196) menyatakan bahwa hasil pengujian (analisis) dalam suatu penelitian yang tidak dibahas menunjukkan bahwa si periset tidak mempunyai konteks ceritera dari hasil penelitiannya itu. Lalu, bagaimana bisa menyusun pembahasan hasil (penelitian)? Dalam kerangka metode ilmiah, ada tiga aspek yang mungkin digunakan untuk menyusun dan mengembangan pembahasan ini, yaitu aspek kajian teoretis, aspek kajian empiris, dan aspek implikasi hasil.

Aspek Kajian Teoretis

Salah satu tujuan untuk meneliti adalah untuk memverifikasi teori. Artinya, Peneliti ingin membuktikan apakah suatu teori tertentu berlaku atau dapat diamati pada obyek penelitian tertentu. Pada penelitian seperti ini, hipotesis penelitian perlu diformulasi dan diuji. Ada dua kemungkinan hasil pengujian hipotesis yang bisa diperoleh Peneliti, yakni
(a) hipotesis penelitian (atau teori yang diverifikasi) terbukti atau
(b) hipotesis penelitian tidak terbukti. Apa pun hasil yang diperoleh, Peneliti harus memberikan diskusi (pembahasan) terhadap hasil tersebut dalam konteks teori yang mendasari penelitiannya. Kompleksitas dari diskusi pada aspek ini bergantung pada hasil penelitian. Jika kemungkinan pertama hasil penelitian diperoleh, konteks diskusi dapat dilakukan secara lebih mudah. Peneliti dapat merujuk kembali teori-teori yang telah disajikan pada kajian teoretis yang telah dituangkan pada bab tentang kajian pustaka. Dengan kata lain, teori-teori yang relevan dan dapat dijadikan argumentasi untuk mendukung hasil yang diperoleh dapat dikemukakan sebagai bahan diskusi.

Baca lebih lanjut

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.