Send by Email, Membantu Mengurangi Pengeluaran Mahasiswa

Dalam proses belajar mengajar di perguruan tinggi bisa dikatakan hampir semua mata kuliah memberikan tugas kepada mahasiswa baik berupa makalah, resume materi kuliah ataupun laporan-laporan kegiatan. Sudah menjadi tradisi tugas, resume atau laporan-laporan tersebut dikumpulkan dalam bentuk hard copy dan dijilid rapi dengan harapan dapat menarik simpati dari dosen bersangkutan. Sama halnya dengan proses bimbingan pembuatan tugas akhir yang bisa berlangsung berkali-kali.

Dengan adanya kemajuan teknologi informasi yang kalau bisa kita manfaatkan dengan cerdas, pengeluaran mahasiswa untuk pembuatan tugas dalam bentuk hard copy tersebut semestinya bisa kita tekan seminimal mungkin. Salah satunya adalah dengan meminta mereka mengirim tugas-tugas tersebut ke dosen lewat email (send by email). Kalau kita coba kalkulasikan biaya yang bisa dihemat oleh mahasiswa dalam satu semester kira-kira :

10(mata kuliah) x 2(penugasan)x(Rp.3.000(penjilidan)+Rp.4.500(foto copy) = Rp.150.000,-

Continue reading

Tips dan Panduan Menyusun Pembahasan Hasil Penelitian

Pembahasan hasil penelitian adalah sub-bab yang paling orisinal dalam laporan penelitian, termasuk skripsi, Tesis, Disertasi. Pada sub-bab ini, Peneliti wajib mengulas hasil penelitian yang diperolehnya secara panjang lebar dengan menggunakan pandangan orisinalnya dalam kerangka teori dan kajian empirik yang terdahulu. Jogiyanto (2004:196) menyatakan bahwa hasil pengujian (analisis) dalam suatu penelitian yang tidak dibahas menunjukkan bahwa si periset tidak mempunyai konteks ceritera dari hasil penelitiannya itu. Lalu, bagaimana bisa menyusun pembahasan hasil (penelitian)? Dalam kerangka metode ilmiah, ada tiga aspek yang mungkin digunakan untuk menyusun dan mengembangan pembahasan ini, yaitu aspek kajian teoretis, aspek kajian empiris, dan aspek implikasi hasil.

Aspek Kajian Teoretis

Salah satu tujuan untuk meneliti adalah untuk memverifikasi teori. Artinya, Peneliti ingin membuktikan apakah suatu teori tertentu berlaku atau dapat diamati pada obyek penelitian tertentu. Pada penelitian seperti ini, hipotesis penelitian perlu diformulasi dan diuji. Ada dua kemungkinan hasil pengujian hipotesis yang bisa diperoleh Peneliti, yakni
(a) hipotesis penelitian (atau teori yang diverifikasi) terbukti atau
(b) hipotesis penelitian tidak terbukti. Apa pun hasil yang diperoleh, Peneliti harus memberikan diskusi (pembahasan) terhadap hasil tersebut dalam konteks teori yang mendasari penelitiannya. Kompleksitas dari diskusi pada aspek ini bergantung pada hasil penelitian. Jika kemungkinan pertama hasil penelitian diperoleh, konteks diskusi dapat dilakukan secara lebih mudah. Peneliti dapat merujuk kembali teori-teori yang telah disajikan pada kajian teoretis yang telah dituangkan pada bab tentang kajian pustaka. Dengan kata lain, teori-teori yang relevan dan dapat dijadikan argumentasi untuk mendukung hasil yang diperoleh dapat dikemukakan sebagai bahan diskusi.

Continue reading

Fungsi Teori dan State of the Arts dalam Penelitian

Tags

,

A. Pengantar

Selain masalah, pertanyaan, tujuan, dan metode penelitian, bagian lain yang tidak kalah pentingnya dan menjadi bagian tak terpisahkan dari kegiatan penelitian adalah teori. Tetapi sebelum melangkah lebih lanjut, penting untuk ditegaskan apa yang dimaksud dengan teori. Kendati istilah ‘teori’ begitu sering dipakai dalam wacana akademik, sebenarnya arti yang tepat masih samar-samar (vague) dan beragam. Para pakar memberikan definisi sesuai pandangannya masing-masing.  Namun, secara umum, teori diartikan sebagai seperangkat ide, penjelasan atau prediksi secara ilmiah.  Dengan nafas positivistik, Kerlinger (Creswell, 2003: 120) mengartikan teori sebagai seperangkat ide, konstruk atau variabel, definisi, dan proposisi yang memberikan gambaran suatu fenomena atau peristiwa secara sistematik dengan cara menentukan hubungan antar-variabel.Lengkapnya definsi Kerlinger tersebut adalah:

“A theory is a set of interrelated constructs  (variables), definitions, and propositions that presents a systematic view of phenomena by specifying relations among variables.

Continue reading

Biosentrisme

Tags

,

Pengantar

Etika lingkungan hidup dipahami sebagai disiplin ilmu yang berbicara mengenai norma dan kaedah moral yang mengatur perilaku manusia dalam berhubungan dengan alam serta nilai dan prinsip moral yang menjiwai perilaku manusia dalam berhubungan dengan alam tersebut. Etika lingkungan hidup memasukkan semua makhluk selain manusia ke dalam perhatian moral manusia. Hal ini ditegaskan oleh Albert Schweitzer yang mengatakan bahwa kesalahan terbesar semua etika-etika sejauh ini hanya berbicara mengenai hubungan antara manusia dengan manusia.

Etika lingkungan hidup tidak hanya berbicara mengenai perilaku manusia terhadap alam. Etika lingkungan hidup juga berbicara mengenai semua relasi di antara semua kehidupan alam semesta, yaitu antara manusia dengan manusia yang mempunyai dampak pada alam dan antara manusia dengan mkhluk hidup lain atau dengan alam secara keseluruhan. Termasuk di dalamnya berbagai kebijakan politik dan ekonomi yang mempunyai dampak langsung atau tidak langsung terhadap alam.

Etika lingkungan hidup menawarkan cara pandang atau paradigma baru sekaligus perilaku baru terhadap lingkungan hidup atau alam, yang bisa dianggap sebagai solusi terhadap krisis ekologi. Pandangan tersebut dibahas dalam tiga model teori etika lingkungan, yaitu Shallow Enviromental Ethics, Intermediate Environmental Ethics, dan Deep Environmental Ethics. Ketiga teori ini dikenal juga sebagai Antroposentrisme, Biosentrisme dan Ekosentrisme. Pada tulisan ini akan dipaparkan salah satu dari tiga model teori etika lingkungan tersebut, yaitu biosentrisme. Continue reading

Manajemen Risiko K3 di Laboratorium

by : Desi Asusanti; Erwin Pulman; Novera Zuli Sekartaji; Dewi Hera Setyati; Khairi Yanti

Pendahuluan

Negara-negara pengimpor suatu produk strategis terutama negara maju baik belahan dunia barat maupun timur telah mensyaratkan penerapan sistem Manajemen Mutu, Sistem Manajemen Lingkungan, Social Accountabillity ( Social Clause ), Sertifikasi Produk, dan Sitem menajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Persyaratan tersebut dimaksudkan untuk memenuhi standar baik internasional, regional maupun badan sertifikasi.

Untuk membuktikan bahwa persyaratan tersebut telah dipenuhi oleh suatu perusahaan, maka harus dibuktikan dengan cara pengukuran kinerja keselamatan dan kesehatan kerja yang merupakan bagian dari proses akrediritas maupun sertifikasi. pengukuran kinerja tersebut merupakan salah satu aspek penting dalam sistem manjemen keselamatan dan kesehatan kerja. Sejalan dengan konsep menajemen modem, maka aspek pengukuran kinerja tersebut dilaksanakan dalam berbagai kegiatan perusahaan yang dimulai sejak tahap perencanaan, konstruksi sampai tahap operasi.

Sesuai dengan ISO 14000 bahwa Sistem Manajemen Keselamatan dan kesehatan kerja merupakan siklus yang berkelanjutan, dimana salah satu tahapan penting yakni melaksanakan monitoring atau pengukuran kinerja penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Pengukuran kinerja tersebut bertujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan, kelemahan atau kekurangan pelaksanaan program Keselamatan dan Kesehatan Kerja yang telah diterapkan oleh perusahaan.

Berdasarkan data-data yang diperoleh dari hasil pengukuran kinerja penerapan keselamatan dan kesehatan kerja tersebut maka dapat digunakan sebagai dasar untuk melaksanakan upaya perbaikan atau penyempurnaan secara terus menerus.
Continue reading