Dalam proses belajar mengajar di perguruan tinggi bisa dikatakan hampir semua mata kuliah memberikan tugas kepada mahasiswa baik berupa makalah, resume materi kuliah ataupun laporan-laporan kegiatan. Sudah menjadi tradisi tugas, resume atau laporan-laporan tersebut dikumpulkan dalam bentuk hard copy dan dijilid rapi dengan harapan dapat menarik simpati dari dosen bersangkutan. Sama halnya dengan proses bimbingan pembuatan tugas akhir yang bisa berlangsung berkali-kali.

Dengan adanya kemajuan teknologi informasi yang kalau bisa kita manfaatkan dengan cerdas, pengeluaran mahasiswa untuk pembuatan tugas dalam bentuk hard copy tersebut semestinya bisa kita tekan seminimal mungkin. Salah satunya adalah dengan meminta mereka mengirim tugas-tugas tersebut ke dosen lewat email (send by email). Kalau kita coba kalkulasikan biaya yang bisa dihemat oleh mahasiswa dalam satu semester kira-kira :

10(mata kuliah) x 2(penugasan)x(Rp.3.000(penjilidan)+Rp.4.500(foto copy) = Rp.150.000,-

Sama halnya dalam pembuatan tugas akhir, semua media online semestinya bisa dimanfaatkan selama proses pembimbingan. Misalnya mahasiswa di Padang dan Promotor atau Pembimbingnya di Pekanbaru, dimana untuk setiap bimbingan tentu membutuhkan biaya transportasi dan akomodasi. Mahasiswa bisa mengirim bahan untuk konsul lewat email dan hasil koreksian dosen juga dikirimkan kembali lewat email. Media jejaring sosial seperti facebook dan YM tentunya bisa juga digunakan untuk konsultasi online antara dosen dan mahasiswa, tentunya dengan terlebih dahulu membuat janji untuk konsultasi online.

Pengalaman pribadi penulis ternyata ketika pertama kali menerapkan metode online tersebut, ternyata banyak mahasiswa yang belum siap untuk mengikutinya. Tidak semua mahasiswa memiliki alamat email sehingga banyak tugas mereka dikirim lewat alamat email orang lain. Lucunya, mereka punya account facebook namun alamat email yang mereka gunakan untuk mendaftar tidak bisa dibuka lagi karena memang tidak pernah digunakan.

Pada akhirnya setelah beberapa kali penugasan dengan metode online, mahasiswa menjadi familiar bahkan mulai meminta dosen yang lain juga menerapkan metode yang sama. Ternyata hal yang kita anggap sederhana, gampang dan seharusnya bisa dilakukan oleh semua mahasiswa masih perlu diberikan terapi kejut agar mereka tidak gagap teknologi.

Semoga makin banyak mahasiswa dan dosen yang Go-Blog … (Nah lho!)