Pembahasan hasil penelitian adalah sub-bab yang paling orisinal dalam laporan penelitian, termasuk skripsi, Tesis, Disertasi. Pada sub-bab ini, Peneliti wajib mengulas hasil penelitian yang diperolehnya secara panjang lebar dengan menggunakan pandangan orisinalnya dalam kerangka teori dan kajian empirik yang terdahulu. Jogiyanto (2004:196) menyatakan bahwa hasil pengujian (analisis) dalam suatu penelitian yang tidak dibahas menunjukkan bahwa si periset tidak mempunyai konteks ceritera dari hasil penelitiannya itu. Lalu, bagaimana bisa menyusun pembahasan hasil (penelitian)? Dalam kerangka metode ilmiah, ada tiga aspek yang mungkin digunakan untuk menyusun dan mengembangan pembahasan ini, yaitu aspek kajian teoretis, aspek kajian empiris, dan aspek implikasi hasil.

Aspek Kajian Teoretis

Salah satu tujuan untuk meneliti adalah untuk memverifikasi teori. Artinya, Peneliti ingin membuktikan apakah suatu teori tertentu berlaku atau dapat diamati pada obyek penelitian tertentu. Pada penelitian seperti ini, hipotesis penelitian perlu diformulasi dan diuji. Ada dua kemungkinan hasil pengujian hipotesis yang bisa diperoleh Peneliti, yakni
(a) hipotesis penelitian (atau teori yang diverifikasi) terbukti atau
(b) hipotesis penelitian tidak terbukti. Apa pun hasil yang diperoleh, Peneliti harus memberikan diskusi (pembahasan) terhadap hasil tersebut dalam konteks teori yang mendasari penelitiannya. Kompleksitas dari diskusi pada aspek ini bergantung pada hasil penelitian. Jika kemungkinan pertama hasil penelitian diperoleh, konteks diskusi dapat dilakukan secara lebih mudah. Peneliti dapat merujuk kembali teori-teori yang telah disajikan pada kajian teoretis yang telah dituangkan pada bab tentang kajian pustaka. Dengan kata lain, teori-teori yang relevan dan dapat dijadikan argumentasi untuk mendukung hasil yang diperoleh dapat dikemukakan sebagai bahan diskusi.

Jika kemungkinan kedua dari hasil penelitian diperoleh, diskusi (pembahasan) menjadi lebih kompleks. Peneliti tidak bisa mendasarkan diskusi tersebut pada teori yang mendukung. Ia harus mendiskusikan atau berargumentasi tentang mengapa hasil penelitiannya tidak dapat membuktikan teori tertentu. Argumentasi ini bisa saja diarahkan pada asumsi yang mendasari berlakunya suatu teori. Misalnya, seorang peneliti menemukan bahwa tidak ada keterkaitan terbalik (negatif) antara harga barang dan permintaan barang tersebut (padahal, teorinya mengatakan ada keterkaitan terbalik ini). Peneliti bisa mencermati asumsi apa yang mendasari teori tersebut yang tidak terdapat pada obyek penelitian. Salah satu asumsi, sebagai contoh, bahwa preferensi (selera) konsumen tidak berubah ternyata tidak berlaku dalam obyek penelitian dapat dijadikan sebagai argumentasi. Untuk menguatkan argumentasi semacam ini, tentunya, Peneliti membutuhkan dukungan data atau informasi.

Aspek Kajian Empiris

Pembahasan hasil penelitian perlu juga dilakukan dengan cara merujuk pada kajian empiris yang telah dilakukan oleh peneliti terdahulu. Jika hasil penelitian konsisten dengan teori yang ada (atau hipotesis penelitian terbukti), pembahasan dapat diarahkan untuk memberikan rujukan penelitian terdahulu yang sesuai dengan hasil penelitian. Pada konteks ini, Peneliti dapat merecall hasil kajian empirik yang telah terkompilasi pada Bab 2 (tentang kajian pustaka). Biasanya, Peneliti menekankan bahwa hasil penelitiannya telah sesuai (atau mendukung) hasil-hasil penelitian terdahulu.

Dalam konteks dimana hasil penelitian tidak konsisten dengan teori (atau hipotesis tidak terbukti), diskusi pada bagian ini dapat diarahkan untuk menemukan kajian empirik yang bisa menjadi argumentasi yang mendukung hasil penelitian tersebut. Misalnya, seorang peneliti mengkaji suatu struktur pasar dari suatu industri. Berdasarkan teori, Ia mempunyai hipotesis penelitian bahwa struktur pasar industri tersebut adalah persaingan sempurna karena dalam industri tersebut banyak penjual dan pembeli. Namun, hasil penelitiannya menemukan bahwa struktur pasar industri tersebut bukan persaingan sempurna melainkan struktur pasar persaingan monopolistik. Untuk mendiskusikan hal ini, Peneliti tersebut harus (bahkan wajib) mencari kajian empirik yang mendukung hal tersebut untuk dijadikan sebagai bahan diskusi. Dengan kata lain, Ia harus menemukan (a) kajian empirik yang menyatakan bahwa meskipun ada banyak penjual dan pembeli dalam suatu industri, belum tentu industri itu dikatakan sebagai industri yang berstruktur pasar persaingan sempurna dan (b) kajian empirik yang menyatakan bahwa struktur pasar ditentukan tidak saja oleh banyaknya penjual dan pembeli tetapi juga oleh tingkat konsentrasi dari penjual dan pembeli. Dalam konteks dimana hasil penelitian tidak konsisten dengan teori, Peneliti harus bekerja keras untuk menemukan kajian empirik yang sesuai. Ia tidak bisa merecall kajian empirik yang telah terkompilasi dalam Bab 2. Ia harus mencari rujukan baru. Dewasa ini, upaya pencarian ini dapat dilakukan dengan mudah mengingat teknologi internet bisa sangat membantu untuk menemukan referensi atau rujukan baru tersebut.

Aspek Implikasi Hasil

Hasil penelitian, baik yang mampu membuktikan hipotesis maupun yang tidak, pada dasarnya mempunyai implikasi (dampak/konsekuensi) bagi obyek penelitian.Peneliti harus mendiskusikan hasil penelitian ini dalam konteks implikasi tersebut. Dalam hal ini, Peneliti harus menginterpretasikan hasil penelitian dalam konteks implikasi atau konsekuensi praktikal dari hasil penelitian bagi obyek penelitian. Alasan yang mendukung mengapa aspek implikasi ini perlu dikemukakan adalah bahwa penelitian dilakukan berdasarkan suatu basis data historis (yang sudah terjadi). Dengan demikian, jika Peneliti tidak mendiskusikan implikasi dari hasil penelitiannya maka ia hanya berhenti pada konteks cerita historis (yang sudah terjadi). Pembahasan mengenai implikasi hasil penelitian akan membawa konteks penelitian ke arah masa depan, bukan pada masa lalu (historis).

Untuk dapat mendiskusikan hasil penelitian dari sudut pandang implikasi praktikal ini, Peneliti dapat menggali apa saja yang bisa dipelajari/dilakukan oleh stakeholders penelitian dalam kaitannya dengan hasil penelitian. Stakeholders penelitian adalah pihak-pihak yang mungkin mendapatkan manfaat dari penelitian. Tentunya, stakeholders utama adalah obyek yang diteliti. Fokus utama peneliti sebaiknya diarahkan pada pemaknaan (interpretasi) hasil penelitian yang bersifat praktis yang bisa dipelajari/dilakukan oleh stakeholders.

Berikut ini adalah beberapa illustrasi yang mungkin bisa memperjelas uraian di atas.

seorang peneliti menyimpulkan bahwa petani kopi biji bersifat risk neutral. Artinya, petani bersifat netral terhadap peristiwa-peristiwa aktual (terjadi sekarang). Implikasi hasil ini adalah (a) petani kopi seharusnya tidak mereaksi peristiwa sekarang secara instan (misalnya, jika harga kopi sekarang turun, petani tidak melakukan penebangan pohon kopinya) dan (b) petani kopi seharusnya lebih memfokuskan usaha taninya untuk mengantisipasi apa yang akan terjadi pada masa yang akan datang (karena tanaman kopi ini mempunyai gestation period sekitar 3 tahun).

Seorang peneliti menyimpulkan bahwa berdasarkan hasil analisis net present value suatu proyek pengembangan usaha tidak layak dilakukan. Diskusi implikasi dari hasil ini dapat diarahkan untuk mengelaborasi tindakan apa yang bisa disarankan agar proyek pengembangan usaha tersebut dapat menjadi layak untuk dilakukan. Dengan berorientasi pada komponen analisis, peneliti dapat mengarahkan elaborasinya pada (a) kemungkinan untuk meningkatkan net cash flow, (b) kemungkinan untuk memperpanjang atau memperpendek umur ekonomis dari proyek, dan (c) kemungkinan untuk menurunkan tingkat diskonto proyek yang dalam hal ini berkaitan dengan penurunan biaya modal dari investasi pada proyek tersebut.

Seorang peneliti menemukan bahwa gaya kepemimpinan kepala sekolah tidak berpengaruh terhadap kinerja guru. Implikasi dari temuan ini adalah (a) integritas guru dalam menjalankan tugasnya tidaklah bergantung pada gaya kepemimpinan seorang kepala sekolah (sederhananya, guru menjalankan tugas bukan karena siapa kepala sekolahnya), (b) peningkatan kinerja guru seharusnya diupayakan dari faktor selain gaya kepemimpinan ini, dan (c) relasi antara kepala sekolah dan guru pada suatu sekolah relatif bersifat kolegial, bukan relasi atasan-bawahan.

Seorang peneliti menemukan bahwa ada dua kluster (kelompok) usaha pada agroindutri perikanan di suatu wilayah, yaitu (a) kluster usaha yang tradisional/konvensional dan (b) kluster usaha yang modern. Implikasi dari temuan tersebut bisa diarahkan bahwa upaya pengembangan dan pemberian bantuan teknis oleh para stakeholders bagi berbagai bisnis agroindutri perikanan seharusnya tidak digeneralisasi (atau satu program untuk semua) melainkan disesuaikan dengan klusternya (misalnya, program pengembangan untuk kluster pertama difokuskan pada pembenahan manajerial sedangkan program pengembangan untuk kluster kedua diarahkan untuk pengembangan jaringan pemasaran dengan menggunakan sarana prasaran modern).

Seorang peneliti mengidentifikasi bahwa moda transportasi kereta api kelas eksekutif didominasi oleh penumpang berpendapatan lebih dari Rp 3 juta per bulan, berlatarbelakang pendidikan minimal sarjana, dan berusia antara 30-45 tahun. Implikasi hasil ini adalah upaya marketing dari moda transportasi ini harus diorientasikan pada pemuasan kebutuhan konsumen/penumpang dengan karakteristik tersebut. Operator moda transportasi perlu mempelajari perilaku konsumen dengan karakteristik dan mengembangkan beberapa program marketing yang sesuai dengan mereka. Misalnya, operator KA memfasilitasi gerbong dengan sarana untuk memenuhi kebutuhan aplikasi multi media konsumen yang produktif, mengedepankan kenyamanan dalam gerbong, dan memberikan konten informasi (seperti surat kabar dan televisi) dalam gerbong.

Dalam praktiknya uraian tentang implikasi praktikal dari hasil penelitian tidak perlu disusun dalam bentuk pointers. Penyajian diskusi dalam bentuk narasi-narasi dalam paragraf-paragraf akan lebih bersifat komunikatif.

Dikutip dari : bukukerja.com