Pagi hari tadi beberapa kelompok nahasiswa kesehatan masyarakat Univeristas Andalas melakanakan kegiatan pengabdian masyarakat ke beberapa sekolah di kota Padang dalam rangka Hari Cuci Tangan Pakai Sabun sedunia. Banyak pengalaman menarik yang mereka ungkapkan sebagaimana dapat dilihat dalam status facebook mereka sehubungan dengan pelaksanaan kegiatan tersebut.

Sejak kapan HCTPS mulai diperingati ?

Hari Cuci Tangan Pakai Sabun (HCTPS) sedunia adalah sebuah kampanye global yang pertama kali dicanangkan oleh PBB pada tanggal 15 Oktober 2008 bekerjasama dengan organisasi-organisasi lainnya baik pihak pemerintah maupun swasta untuk menggalakkan perilaku mencuci tangan dengan sabun oleh masyarakat sebagai upaya untuk menurunkan tingkat kematian balita dan pencegahan terhadap penyakit yang dapat berdampak pada penurunan kualitas hidup manusia.

Mencuci tangan merupakan satu diantara tindakan pencegahan terhadap penyakit diare yang paling efektif dan bermakna, bersama dengan kebiasaan buang air besar yang aman dan suplay air minum rumah tangga yang aman dan mencukupi. Bukti-bukti yang ada menyatakan peningkatan kebiasaan mencuci tangan dapat berdampak terhadap kesehatan mayarakat di beberapa negara dan secara bermakna menurunkan dua penyebab utama kematian balita yaitu diare dan infeki saluran pernafasan.

Apa yang diharapkan dengan HCTPS ini ?

Salah satu tujuan dari kampanye ini adalah penurunan angka kematian untuk anak-anak dimana lebih dari 5.000 anak balita penderita diare meninggal setiap harinya diseluruh dunia sebagai akibat dari kurangnya akses pada air bersih dan fasilitas sanitasi dan pendidikan kesehatan. Penderitaan dan biaya-biaya yang harus ditanggung karena sakit dapat dikurangi dengan melakukan perubahan perilaku sederhana seperti mencuci tangan dengan sabun, yang menurut penelitian dapat mengurangi angka kematian yang terkait dengan penyakit diare hingga hampir 50 persen.

Selain itu, fakta ditetapkannya hari CTPS oleh PBB sebenarnya wujud kepedulian PBB terhadap masyarakat dunia, di mana tidak hanya negara-negara berkembang seperti Indonesia yang mengalami kesulitan membiasakan masyarakat melakukan CTPS, tetapi juga negara-negara maju lainnya.

Studi BHS (Basic Human Services) di Indonesia pada tahun 2006 ditemukan bahwa perilaku cuci tangan setelah buang air besar hanya dilakukan oleh 12% masyarakat, lalu 9% setelah membersihkan tinja bayi dan balita, 14% sebelum makan, 7% sebelum member makan bayi, serta 6% sebelum menyiapkan makanan. Hal tersebut membuktikan rendahnya perilaku cuci tangan di masyarakat Indonesia. Jika persen perilaku cuci tangan di masyarakat meningkat, hal ini tentunya dapat mengurangi jumlah kejadian Diare.

Diramu dari berbagai sumber.