Tag

,

Arikel ini telah diterbitkan di kompasiana

Pagi ini saya dapat tugas “domestik’ mengantarkan anak kedua kami ke sekolahnya di Taman Kanak-Kanak. Begitu sampai di sekolah setelah salaman dengan gurunya dia langsung bergabung dengan teman-temannya yang telah duluan datang, berlari-lari dengan riangnya menunggu lonceng tanda berbaris dibunyikan. Terlihat betapa senang dan gembiranya mereka berkejar-kejaran, meliuk-liuk membawakan berbagai macam gaya.

Melihat tingkah anak-anak tersebut jadi terbayang masa-masa saya seusia mereka dulu, 33 tahun yang lalu. Ketika itu di kampung kami belum ada pendidikan pra sekolah, hari-hari kami isi dengan bermain dan bermain. Banyak sekali bentuk permainan yang kami lakoni, sehingga tidak pernah merasakan jenuh untuk selalu berkumpul bersama dengan teman-teman. Mobil-mobilan kami buat dengan menjadikan buah jerukkasumbo (sebangsa jeruk Bali) sebagai rodanya kemudian ditusuk dengan ranting kayu sebagai sumbunya dan sebuah tongkat dari kayu sebagai kemudinya. Kami juga telah mengenal seluncuran dari pelepah kelapa yang dibuat sebagai kendaraannya kemudian meluncur di tanah yang miring, woww.. asyiknya.

Apa yang berbeda ?

Dulu ketika saya di usia pra sekolah kebahagiaan dunia anak adalah milik bersama. Semuanya bisa bergabung tanpa memandang status sosial orang tuanya. Kami selalu bersama, siang main dan malamnya mengaji di surau (musalla/langgar). Tidak ada yang menangis sesenggukan karena tidak bisa bergabung dengan teman sebayanya.

Sekarang apa yang kita temui, anak-anak sejak usia pra sekolah sudah mengelompok dengan sendirinya sesuai dengan status sosial orang tua mereka. Anak dari keluarga mampu akan mendapatkan lingkungan yang serba menyenangkan baik di rumah maupun di sekolahnya. Mereka tidak pernah berinteraksi dengan teman sebayanya yang berasal dari keluarga kurang mampu yang kebanyakan kurus, korengan, dan tidak terawat. Bisa jadi keadaan ini menjadi faktor pemicu dari kurangnya kepedulian terhadap sesama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang mulai kita rasakan akhir-akhir ini.

Bila kita tinggal di perumahan yang semua penghuninya dari kalangan mampu, kita tidak pernah melihat tatapan sedih anak-anak yang melihat teman sebayanya berangkat sekolah sementara dia hanya tinggal di rumah. Apalagi bagi anak-anak yang harus mengisi masa kecilnya dengan ikut banting tulang menopang ekonomi keluarganya.

Wajah sedih itu …

Sabar ya anak-anak ku, jangan berputus asa. Banyak kok orang kaya dan sukses yang kamu lihat di TV itu, mengalami masa kecil yang suram seperti yang kalian alami kini.

Selamat Hari anak Nasional.