Makalah Kelompok 6 : SMK3 Laboratorium

Anggota Kelompok : 1)Elvira Yunita; 2)Fadillah Ulva; 3)Novida Yanti; 4)Wilda Delfia

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Pelaksanaan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) adalah salah satu bentuk upaya untuk menciptakan tempat kerja yang aman, sehat, bebas dari pencemaran lingkungan, sehingga dapat mengurangi dan atau bebas dari kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja yang pada akhirnya dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitas kerja. Kecelakaan kerja tidak saja menimbulkan korban jiwa maupun kerugian materi bagi pekerja dan pengusaha, tetapi juga dapat mengganggu proses produksi secara menyeluruh, merusak lingkungan yang pada akhirnya akan berdampak pada masyarakat luas.

Penyakit Akibat Kerja (PAK) dan Penyakit Akibat Hubungan Kerja (PAHK) di kalangan petugas kesehatan dan non kesehatan kesehatan di Indonesia belum terekam dengan baik. Jika kita pelajari angka kecelakaan dan penyakit akibat kerja di beberapa negara maju dari beberapa pengamatan, menunjukan kecenderungan peningkatan prevalensi. Sebagai faktor penyebab, sering terjadi karena kurangnya kesadaran pekerja dan kualitas serta keterampilan pekerja yang kurang memadai. Banyak pekerja yang meremehkan risiko kerja, sehingga tidak menggunakan alat-alat pengaman walaupun sudah tersedia.

Kesehatan kerja mempengaruhi manusia dalam hubunganya dengan pekerjaan dan lingkungan kerjanya, baik secara fisik maupun psikis yang meliputi, antara lain: metode bekerja, kondisi kerja dan lingkungan kerja yang mungkin dapat menyebabkan kecelakaan, penyakit ataupun perubahan dari kesehatan seseorang. Pada hakekatnya ilmu kesehatan kerja mempelajari dinamika, akibat dan problematika yang ditimbulkan akibat hubungan interaktif. Tiga komponen utama yang mempengaruhi seseorang bila bekerja yaitu:
1. Kapasitas kerja: Status kesehatan kerja, gizi kerja, dan lain-lain.
2. Beban kerja: fisik maupun mental.
3. Beban tambahan yang berasal dari lingkungan kerja antara lain:bising, panas, debu,parasit, dan lain-lain.

Bila ketiga komponen tersebut serasi maka bisa dicapai suatu kesehatan kerja yang optimal. Sebaliknya bila terdapat ketidakserasian dapat menimbulkan masalah kesehatan kerja berupa penyakit ataupun kecelakaan akibat kerja yang pada akhirnya akan menurunkan produktifitas kerja.

1.2. Rumusan Masalah

1.2.1. Bagaimanakah Identifikasi Masalah Kesehatan Dan Keselamatan Kerja Laboratorium Kesehatan Dan Pencegahannya?
1.2.2. Bagaimanakah Penyakit Akibat Kerja & Penyakit Akibat Hubungan Kerja di laboratorium kesehatan?
1.2.3. Bagaimanakah Pengendalian Penyakit Akibat Kerja Dan Kecelakaan Melalui Penerapan Kesehatan Dan Keselamatan Kerja?

1.3. Tujuan Penulisan

1.3.1. Mengetahui Identifikasi Masalah Kesehatan Dan Keselamatan Kerja Laboratorium Kesehatan Dan Pencegahannya
1.3.2. Mengetahui Penyakit Akibat Kerja & Penyakit Akibat Hubungan Kerja di laboratorium kesehatan
1.3.3. Mengetahui Pengendalian Penyakit Akibat Kerja Dan Kecelakaan Melalui Penerapan Kesehatan Dan Keselamatan Kerja

1.4 Manfaat Penulisan

Dengan adanya pembahasan mengenai SMK3 di laboratorium ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dan dapat diterapkan dalam setap laboratorium sesuai dengan SMK3.

PEMBAHASAN

Laboratorium adalah sarana yang dipergunakan untuk melakukan pengukuran, penetapan, dan pengujian terhadap bahan yang digunakan untuk penentuan formula obat yang akan dibuat. Laboratorium Kesehatan adalah sarana kesehatan yang melaksanakan pengukuran, penetapan dan pengujian terhadap bahan yang berasal dari manusia atau bahan yang bukan berasal dari manusia untuk penentuan jenis penyakit, penyebab penyakit, kondisi kesehatan dan faktor yang dapat berpengaruh terhadap kesehatan perorangan dan masyarakat.

Untuk dapat menerapkan K3 yang baik, fasilitas laboratorium harus memenuhi beberapa persyaratan berikut ini:
1. Harus mempunyai sistem ventilasi yang memadai agar sirkulasi udara berjalan lancar.
2. Harus mempunyai alat pemadam kebakaran terhadap bahan kimia yang berbahaya yang dipakai.
3. Harus menyediakan alat pembakar gas yang terbuka untuk menghindari bahaya kebakaran.
4. Meja yang digunakan harus diberi bibir untuk menahan tumpahan larutan yang mudah terbakar, korosif dan melindungi tempat yang aman dari bahaya kebakaran
5. Menyediakan dua buah jalan keluar untuk keluar dari kebakaran dan terpisah sejauh mungkin.
6. Tempat penyimpanan di laboratorium di desain untuk mengurangi sekecil mungkin risiko oleh bahan-bahan berbahaya dalam jumlah besar.
7. Harus tersedianya alat Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K).
8. Kesiapan menghindari panas sejauh mungkin dengan memakai alat pembakar gas yang terbuka untuk menghindari bahaya kebakaran.
9. Untuk menahan tumpahan larutan yang mudah terbakar dan melindungi tempat yang aman dari bahaya kebakaran dapat disediakan bendung bendung talam.

2.1. Identifikasi Masalah Kesehatan Dan Keselamatan Kerja Laboratorium Kesehatan Dan Pencegahannya

A. Kecelakaan Kerja

Kecelakaan kerja adalah kejadian yang tidak terduga dan tidak diharapkan. Biasanya kecelakaan menyebabkan, kerugian material dan penderitaan dari yang paling ringan sampai kepada yang paling berat. Kecelakaan di laboratorium dapat berbentuk 2 jenis yaitu :
1. Kecelakaan medis, jika yang menjadi korban adalah pasien
2. Kecelakaan kerja, jika yang menjadi korban adalah petugas laboratorium itu sendiri.

Penyebab kecelakaan kerja dapat dibagi dalam kelompok :

1. Kondisi berbahaya (unsafe condition), yaitu yang tidak aman dari:
a. Mesin, peralatan, bahan dan lain-lain
b. Lingkungan kerja
c. Proses kerja
d. Sifat pekerjaan
e. Cara kerja

2. Perbuatan berbahaya (unsafe act), yaitu perbuatan berbahaya dari manusia, yang dapat terjadi antara lain karena:
a. Kurangnya pengetahuan dan keterampilan pelaksana
b. Cacat tubuh yang tidak kentara (bodily defect)
c. Keletihanan dan kelemahan daya tahan tubuh.
d. Sikap dan perilaku kerja yang tidak baik

Beberapa contoh kecelakaan yang banyak terjadi di laboratorium :
1. Terpeleset, biasanya karena lantai licin.
Terpeleset dan terjatuh adalah bentuk kecelakaan kerja yang dapat terjadi di laboratorium. Akibatnya :
• Ringan: memar
• Berat: fraktura, dislokasi, memar otak, dll.
Pencegahannya :
• Pakai sepatu anti slip
• Jangan pakai sepatu dengan hak tinggi, tali sepatu longgar
• Hati-hati bila berjalan pada lantai yang sedang dipel (basah dan licin) atau tidak rata konstruksinya.
• Pemeliharaan lantai dan tangga

2. Mengangkat beban
Mengangkat beban merupakan pekerjaan yang cukup berat, terutama bila mengabaikan kaidah ergonomi.
Akibatnya:
• cedera pada punggung.
Pencegahannya :
• Beban jangan terlalu berat
• Jangan berdiri terlalu jauh dari beban
• Jangan mengangkat beban dengan posisi membungkuk tapi pergunakanlah tungkai bawah sambil berjongkok
• Pakaian penggotong jangan terlalu ketat sehingga pergerakan terhambat.

3. Mengambil sample darah/cairan tubuh lainnya.
Akibatnya :
• Tertusuk jarum suntik
• Tertular virus AIDS, Hepatitis B
Pencegahannya :
• Gunakan alat suntik sekali pakai
• Jangan tutup kembali atau menyentuh jarum suntik yang telah dipakai tapi langsung dibuang ke tempat yang telah disediakan (sebaiknya gunakan destruction clip).
• Bekerja di bawah pencahayaan yang cukup

4. Risiko terjadi kebakaran (sumber: bahan kimia, kompor) bahan desinfektan yang mungkin mudah menyala (flammable) dan beracun.Kebakaran terjadi bila terdapat 3 unsur bersama sama yaitu: oksigen, bahan yang mudah terbakar dan panas.
Akibatnya :
• Timbulnya kebakaran dengan akibat luka bakar dari ringan sampai berat
bahkan kematian.
• Timbul keracunan akibat kurang hati-hati.
Pencegahannya :
• Konstruksi bangunan yang tahan api
• Sistem penyimpanan yang baik terhadap bahan-bahan yang mudah terbakar
• Pengawasan terhadap kemungkinan timbulnya kebakaran
• Sistem tanda kebakaran
 Manual yang memungkinkan seseorang menyatakan tanda bahaya dengan segera
 Otomatis yang menemukan kebakaran dan memberikan tanda secara otomatis
• Jalan untuk menyelamatkan diri
• Perlengkapan dan penanggulangan kebakaran.
• Penyimpanan dan penanganan zat kimia yang benar dan aman.

2.2. Penyakit Akibat Kerja & Penyakit Akibat Hubungan Kerja di laboratorium kesehatan

Penyakit Akibat Kerja adalah penyakit yang mempunyai penyebab yang spesifik atau asosiasi yang kuat dengan pekerjaan, pada umumnya terdiri dari satu agen penyebab, harus ada hubungan sebab akibat antara proses penyakit dan hazard di tempat kerja. Faktor Lingkungan kerja sangat berpengaruh dan berperan sebagai penyebab timbulnya Penyakit Akibat Kerja. Sebagai contoh antara lain debu silika dan Silikosis, uap timah dan keracunan timah. Akan tetapi penyebab terjadinya akibat kesalahan faktor manusia juga (WHO). Berbeda dengan Penyakit Akibat Kerja, Penyakit Akibat Hubungan Kerja (PAHK) sangat luas ruang lingkupnya. Menurut Komite Ahli WHO (1973), Penyakit Akibat Hubungan Kerja adalah “penyakit dengan penyebab multifaktorial, dengan kemungkinan besar berhubungan dengan pekerjaan dan kondisi tempat kerja. Pajanan di tempat kerja tersebut memperberat, mempercepat terjadinya serta menyebabkan kekambuhan penyakit.

Penyakit akibat kerja di laboratorium kesehatan umumnya berkaitan dengan faktor biologis (kuman patogen yang umumnya berasal dari pasien); faktor kimia (pemaparan dalam dosis kecil namun terus menerus seperti antiseptik pada kulit, zat kimia/solvent yang menyebabkan kerusakan hati; faktor ergonomi (cara duduk salah, cara mengangkat pasien salah); faktor fisik dalam dosis kecil yang terus menerus (panas pada kulit, tegangan tinggi, radiasi dll.); faktor psikologis (ketegangan di kamar penerimaan pasien, gawat darurat, karantina dll.)

1) Faktor Biologis

Lingkungan kerja pada Pelayanan Kesehatan favorable bagi berkembang biaknya strain kuman yang resisten, terutama kuman-kuman pyogenic, colli, bacilli dan staphylococci, yang bersumber dari pasien, benda-benda yang terkontaminasi dan udara. Virus yang menyebar melalui kontak dengan darah dan sekreta (misalnya HIV dan Hep. B) dapat menginfeksi pekerja hanya akibat kecelakaan kecil dipekerjaan, misalnya karena tergores atau tertusuk jarum yang terkontaminasi virus.
Angka kejadian infeksi nosokomial di unit Pelayanan Kesehatan cukup tinggi. Secara teoritis kemungkinan kontaminasi pekerja LAK sangat besar, sebagai contoh dokter di RS mempunyai risiko terkena infeksi 2 sampai 3 kali lebih besar dari pada dokter yang praktek pribadi atau swasta, dan bagi petugas Kebersihan menangani limbah yang infeksius senantiasa kontak dengan bahan yang tercemar kuman patogen, debu beracun mempunyai peluang terkena infeksi
Pencegahan :
a. Seluruh pekerja harus mendapat pelatihan dasar tentang kebersihan, epidemilogi dan desinfeksi.
b. Sebelum bekerja dilakukan pemeriksaan kesehatan untuk memastikan dalam keadaan sehat badani, punya cukup kekebalan alami untuk bekrja dengan bahan infeksius, dan dilakukan imunisasi.
c. Melakukan pekerjaan laboratorium dengan praktek yang benar (Good Laboratory Practice)
d. Menggunakan desinfektan yang sesuai dan cara penggunaan yang benar.
e. Sterilisasi dan desinfeksi terhadap tempat, peralatan, sisa bahan infeksius dan spesimen secara benar
f. Pengelolaan limbah infeksius dengan benar
g. Menggunakan kabinet keamanan biologis yang sesuai.
h. Kebersihan diri dari petugas.

2) Faktor Kimia

Petugas di laboratorium kesehatan yang sering kali kontak dengan bahan kimia dan obat-obatan seperti antibiotika, demikian pula dengan solvent yang banyak digunakan dalam komponen antiseptik, desinfektan dikenal sebagai zat yang paling karsinogen. Semua bahan cepat atau lambat ini dapat memberi dampak negatif terhadap kesehatan mereka. Gangguan kesehatan yang paling sering adalah dermatosis kontak akibat kerja yang pada umumnya disebabkan oleh iritasi (amoniak, dioksan) dan hanya sedikit saja oleh karena alergi (keton). Bahan toksik ( trichloroethane, tetrachloromethane) jika tertelan, terhirup atau terserap melalui kulit dapat menyebabkan penyakit akut atau kronik, bahkan kematian. Bahan korosif (asam dan basa) akan mengakibatkan kerusakan jaringan yang irreversible pada daerah yang
terpapar.
Pencegahan :
a. ”Material safety data sheet” (MSDS) dari seluruh bahan kimia yang ada untuk diketahui oleh seluruh petugas laboratorium.
b. Menggunakan karet isap (rubber bulb) atau alat vakum untuk mencegah tertelannyabahan kimia dan terhirupnya aerosol.
c. Menggunakan alat pelindung diri (pelindung mata, sarung tangan, celemek, jas laboratorium) dengan benar.
d. Hindari penggunaan lensa kontak, karena dapat melekat antara mata dan lensa.
e. Menggunakan alat pelindung pernafasan dengan benar.

3) Faktor Ergonomi

Ergonomi sebagai ilmu, teknologi dan seni berupaya menyerasikan alat, cara, proses dan lingkungan kerja terhadap kemampuan, kebolehan dan batasan manusia untuk terwujudnya kondisi dan lingkungan kerja yang sehat, aman, nyaman dan tercapai efisiensi yang setinggi-tingginya. Pendekatan ergonomi bersifat konseptual dan kuratif, secara populer kedua pendekatan tersebut dikenal sebagai To fit the Job to the Man and to fit the Man to the Job Sebagian besar pekerja di perkantoran atau Pelayanan Kesehatan pemerintah, bekerja dalam posisi yang kurang ergonomis, misalnya tenaga operator peralatan, hal ini disebabkan peralatan yang digunakan pada umumnya barang impor yang disainnya tidak sesuai dengan ukuran pekerja Indonesia. Posisi kerja yang salah dan dipaksakan dapat menyebabkan mudah lelah sehingga kerja menjadi kurang efisien dan dalam jangka panjang dapat menyebakan gangguan fisik dan psikologis (stress) dengan keluhan yang paling sering adalah nyeri pinggang kerja (low back pain).

4) Faktor Fisik

Faktor fisik di laboratorium kesehatan yang dapat menimbulkan masalah kesehatan kerja meliputi:
a. Kebisingan, getaran akibat mesin dapat menyebabkan stress dan ketulian
b. Pencahayaan yang kurang di ruang kamar pemeriksaan, laboratorium, ruang perawatan dan kantor administrasi dapat menyebabkan gangguan penglihatan dan kecelakaan kerja.
c. Suhu dan kelembaban yang tinggi di tempat kerja
d. Terimbas kecelakaan/kebakaran akibat lingkungan sekitar.
e. Terkena radiasi

Khusus untuk radiasi, dengan berkembangnya teknologi pemeriksaan, penggunaannya meningkat sangat tajam dan jika tidak dikontrol dapat membahayakan petugas yang menangani. Pencegahan :
1. Pengendalian cahaya di ruang laboratorium.
2. Pengaturan ventilasi dan penyediaan air minum yang cukup memadai.
3. Menurunkan getaran dengan bantalan anti vibrasi
4. Pengaturan jadwal kerja yang sesuai.
5. Pelindung mata untuk sinar laser
6. Filter untuk mikroskop

5) Faktor Psikososial

Beberapa contoh faktor psikososial di laboratorium kesehatan yang dapat menyebabkan stress :
a. Pelayanan kesehatan sering kali bersifat emergency dan menyangkut hidup mati seseorang. Untuk itu pekerja di laboratorium kesehatan di tuntut untuk memberikan pelayanan yang tepat dan cepat disertai dengan kewibawaan dan keramahan-tamahan
b. Pekerjaan pada unit-unit tertentu yang sangat monoton.
c. Hubungan kerja yang kurang serasi antara pimpinan dan bawahan atau sesama teman kerja.
d. Beban mental karena menjadi panutan bagi mitra kerja di sektor formal ataupun informal.

2.3. Pengendalian Penyakit Akibat Kerja Dan Kecelakaan Melalui Penerapan Kesehatan Dan Keselamatan Kerja

A. Pengendalian Melalui Perundang-undangan (Legislative Control)

Pengendalian melalui perundang-undangan antara lain :
1. UU No. 14 Tahun 1969 Tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Petugas kesehatan dan non kesehatan
2. UU No. 1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja.
3. UU No. 23 tahun 1992 tentang Kesehatan
4. Peraturan Menteri Kesehatan tentang higene dan sanitasi lingkungan.
5. Peraturan penggunaan bahan-bahan berbahaya
6. Peraturan/persyaratan pembuangan limbah dll.

B. Pengendalian melalui Administrasi / Organisasi (Administrative control)

Pengendalian melalui Administrasi / Organisasi (Administrative control) antara lain:
1. Persyaratan penerimaan tenaga medis, para medis, dan tenaga non medis yang meliputi batas umur, jenis kelamin, syarat kesehatan
2. Pengaturan jam kerja, lembur dan shift
3. Menyusun Prosedur Kerja Tetap (Standard Operating Procedure) untuk masing-masing instalasi dan melakukan pengawasan terhadap pelaksanaannya
4. Melaksanakan prosedur keselamatan kerja (safety procedures) terutama untuk pengoperasian alat-alat yang dapat menimbulkan kecelakaan (boiler, alat-alat radiology, dll) dan melakukan pengawasan agar prosedur tersebut dilaksanakan
5. Melaksanakan pemeriksaan secara seksama penyebab kecelakaan kerja dan mengupayakan pencegahannya.

C. Pengendalian Secara Teknis (Engineering Control)

Pengendalian secara teknis (Engineering Control) antara lain:
1. Substitusi dari bahan kimia, alat kerja atau proses kerja
2. Isolasi dari bahan-bahan kimia, alat kerja, proses kerja dan petugas kesehatan dan non kesehatan (penggunaan alat pelindung)
3. Perbaikan sistim ventilasi, dan lain-lain

D. Pengendalian Melalui Jalur Kesehatan (Medical Control)

Pengendalian melalui jalur kesehatan yaitu upaya untuk menemukan gangguan sedini mungkin dengan cara mengenal (Recognition) kecelakaan dan penyakit akibat kerja yang dapat tumbuh pada setiap jenis pekerjaan di unit pelayanan kesehatan dan pencegahan meluasnya gangguan yang sudah ada baik terhadap pekerja itu sendiri maupun terhadap orang disekitarnya. Dengan deteksi dini, maka penatalaksanaan kasus menjadi lebih cepat, mengurangi penderitaan dan mempercepat pemulihan kemampuan produktivitas masyarakat pekerja. Disini diperlukan system rujukan untuk menegakkan diagnosa penyakit akibat kerja secara cepat dan tepat (prompt-treatment). Pencegahan sekunder ini dilaksanakan melalui pemeriksaan kesehatan pekerja yang meliputi:

1. Pemeriksaan Awal

Adalah pemeriksaan kesehatan yang dilakukan sebelum seseorang calon / pekerja (petugas kesehatan dan non kesehatan) mulai melaksanakan pekerjaannya. Pemeriksaan ini bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang status kesehatan calon pekerja dan mengetahui apakah calon pekerja tersebut ditinjau dari segi kesehatannya sesuai dengan pekerjaan yang akan ditugaskan kepadanya.
Pemerikasaan kesehatan awal ini meliputi:
• Anamnese umum
• Anamnese pekerjaan
• Penyakit yang pernah diderita
• Alrergi
• Imunisasi yang pernah didapat
• Pemeriksaan badan
• Pemeriksaan laboratorium rutin
• Pemeriksaan tertentu:
• Tuberkulin test
• Psiko test

2. Pemeriksaan Berkala

Adalah pemeriksaan kesehatan yang dilaksanakan secara berkala dengan jarak waktu berkala yang disesuaikan dengan besarnya resiko kesehatan yang dihadapi. Makin besar resiko kerja, makin kecil jarak waktu antar pemeriksaan berkala. Ruang lingkup pemeriksaan disini meliputi pemeriksaan umum dan pemeriksaan khusus seperti pada pemeriksaan awal dan bila
diperlukan ditambah dengan pemeriksaan lainnya, sesuai dengan resiko kesehatan yang dihadapi dalam pekerjaan.

3. Pemeriksaan Khusus

Yaitu pemeriksaan kesehatan yang dilakukan pada khusus diluar waktu pemeriksaan berkala, yaitu pada keadaan dimana ada atau diduga ada keadaan yang dapat mengganggu kesehatan pekerja.

E. Sistem Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja di Laboratorium

perusahaan melakukan beberapa tindakan untuk mencegah kecelakaan kerja yang terjadi bagi pekerjanya khususnya di bagian laboratorium yaitu dengan menerapkan Sistem Manajemen Kebijakan dan Keselamatan Kerja yang dimulai dari beberapa tahapan yaitu : Planning (perencanaan),Organizing (organisasi), Actuating (pelaksanaan), Controlling (pengawasan).

1. Planning (Perencanaan)

Berfungsi untuk menentukan kegiatan yang akan dilakukan di masa mendatang guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan khususnya keselamatan dan kesehatan kerja di laboratorium.

2. Organizing (Organisasi)

Berfungsi untuk :
a) Menyusun garis besar pedoman keamanan kerja laboratorium
b) Memberikan bimbingan, penyuluhan, pelatihan pelaksana-an keamanan kerja laboratorium
c) Memantau pelaksanaan pedoman keamanan kerja laboratorium
d) Memberikan rekomendasi untuk bahan pertimbangan penerbitan izin laboratorium
e) Mengatasi dan mencegah meluasnya bahaya yang timbul dari suatu laboratorium

3. Actuating (Pelaksanaan)

Berfungsi untuk mendorong semangat kerja pekerja, mengerahkan aktivitas pekerja, mengkoordinasikan berbagai aktivitas pekerja menjadi aktivitas yang kompak (sinkron), sehingga semua aktivitas pekerja sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan sebelumnya.

4. Controlling (Pengawasan)

Berfungsi untuk mengusahakan agar pekerjaan-pekerjaan terlaksana sesuai dengan rencana yang ditetapkan atau hasil yang dikehendaki.
Untuk dapat menjalankan pengawasan, perlu diperhatikan 2 prinsip pokok, yaitu: adanya rencana dan adanya instruksi-instruksi dan pemberian wewenang kepada bawahan. Dalam pengawasan perlu adanya sosialisasi tentang perlunya disiplin, mematuhi segala peraturan demi keselamatan kerja bersama di laboratorium. Sosialisasi perlu dilakukan terus menerus, karena usaha pencegahan bahaya yang bagaimanapun baiknya akan sia-sia bila peraturan diabaikan.

Dalam laboratorium perlu dibentuk pengawasan laboratorium yang tugasnya antara lain :
a. Memantau dan mengarahkan secara berkala praktek-praktek laboratorium yang baik, benar dan aman
b. Memastikan semua petugas laboratorium memahami cara-cara menghindari risiko bahaya dalam laboratorium
c. Melakukan penyelidikan/pengusutan segala peristiwa berbahaya atau kecelakaan.
d. Mengembangkan sistem pencatatan dan pelaporan tentang keamanan kerja laboratorium
e. Melakukan tindakan darurat untuk mengatasi peristiwa berbahaya dan mencegah meluasnya bahaya tersebut.

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Kesehatan dan keselamatan kerja di Laboratorium Kesehatan bertujuan agar petugas, masyarakat dan lingkungan laboratorium kesehatan saat bekerja selalu dalam keadaan sehat, nyaman, selamat, produktif dan sejahtera. Untuk dapat mencapai tujuan tersebut, perlu kemauan, kemampuan dan kerjasama yang baik dari semua pihak. Pihak pemerintah dalam hal ini Departemen Kesehatan sebagai lembaga yang bertanggung-jawab terhadap kesehatan masyarakat, memfasilitasi pembentukan berbagai peraturan, petunjuk teknis dan pedoman K3 di laboratorium kesehatan serta menjalin kerjasama lintas program maupun lintas sektor terkait dalam pembinaan K3 tersebut. Keterlibatan dan komitmen yang tinggi dari pihak manajemen atau pengelola laboratorium kesehatan mempunyai peran sentral dalam pelaksanaan program ini. Demikian pula dengan pihak petugas kesehatan dan non kesehatan yang menjadi sasaran program K3 ini harus berpartisipasi secara aktif, bukan hanya sebagai obyek tetapi juga berperan sebagai subyek dari upaya mulia ini.

3.2 Saran

Melalui kegiatan Kesehatan dan Keselamatan Kerja , diharapkan petugas kesehatan dan non kesehatan yang bekerja di laboratorium kesehatan dapat bekerja dengan lebih produktif, sehingga tugas sebagai pelayan kesehatan kepada masyarakat dapat ditingkatkan mutunya.

DAFTAR PUSTAKA

Tresnaningsih moh, phd,spok, dr. Erna. Kesehatan dan keselamatan kerja Laboratorium kesehatan. Dalam http://www.depkes.go.id diakses pada 20 Oktobern 2010 19.10 WIB.
Triani, Nurul. Kesehatan dan keselamatan kerja dalam laboratorium. Dalam http://repository.ui.ac.id diakses pada 20 Oktobern 2010 19.15 WIB.

Tentang Aria Gusti

Hi, I am =arya= a lecture at School of Public Health, Andalas University, Padang, West Sumatera.
Tulisan ini dipublikasikan di SMK3, UU K3 dan Manajemen Risiko. Tandai permalink.

24 Balasan ke Makalah Kelompok 6 : SMK3 Laboratorium

  1. Aria Gusti berkata:

    Selamat berdiskusi.
    Bravo K3 kesling FKM Unand!

    • widya tri octaviana berkata:

      terimakasih sebelumnya atas makalah kelompok…
      saya cuma ingin menayakan mengenai pemeriksaan kesehatan berkala pada pekerja d laboratorium,, memang pemeriksaan berkala ini disesuaikan dengan besarnya resiko yang dihadapi,namun menurut kelompok, setiap rentang waktu berapa idealnya para pekerja tsb diperiksa ksehatannya?
      yg saya dengar pemeriksaan berkala ini tidak berjalan dengan optimal,, bagaimana menurut klp?
      dn apa solusinya?

  2. widya tri octaviana berkata:

    aslmkm.
    terimakasih sebelumnya saya ucapkan kpd kelompok penyaji atas makalahnya..
    saya cuma ingin menanyakan mengenai pemeriksaan kesehatan berkala pada pekerja di laboratorium… memang pemeriksaan ini disesuaikan dengan seberapa besar resiko yang dihadapi oleh pekerja,,, namun menurut kelompok,, dalam setiap rentang waktu berapakah idealnya kondisi kesehatan para pekerja diperiksakan?
    lalu biasanya yg saya dengar pemeriksaan berkala ini tidak berjalan dengan optimal, padahal ini penting untuk melihat kondisi kesehatan para pekerja,, bagaimana menurut kelompok?? dan apa solusinya?

  3. sabila syaiful III berkata:

    hm…
    trimakasih nih buat postingnya kelompok…
    bla cuman pengen tau…
    kira2 laboratotium di Indonesia udah ada yang melaksanakan SMK3 nggak ya…?

  4. widya tri octaviana berkata:

    setau Dya d labor PT Semen Padang udah memiliki SMK3 bel….

  5. wira yelina berkata:

    mlem tman2,,
    :))
    dRi pDa g aDa kRjaaN wiRa maU nNya nE cMa aNggoTa kLompoK LaboRatoRium,,

    sepRti yG kTa kThui pNyakiT aKibaT kRja d LaBoRatorium uMumnya kan LbiH bNyaK tRjaDi pDa FaKtoR bIoLogis (KumaN paTogeN), daN FaKtoR kiMia (zaT kimia/soLveNt yG bIsa mNyeBab kaN kEmatian).
    dImna FaktoR bIoLogIs aNgka kJadian cUkuP tNggi sPrti kEjadIan iNFeksi nosoKomiaL, spRti cOntOh dKteR RS mMpunyai rEsiko tRkena 2-3 kaLi LbiH bEsaR dRi pDa dOktR yG pRakteR pRibaDi aTau swasta, dan bagI pTugaz kBrsihan mEnaNgni LimbaH yg InfeKsius sEnaNtiasa kOntaK dGn bHaN tRcEmar yG patOgEn,,bGitu jg dGn dEbu mMpunyaI pLuaNg tRkena iNfeKsi.
    sDaNgkan paDa FaKtoR kiMia dPaT mMbeRikaN dMpaK nEgaTiF tRhDaP kshaTaN, spRti diSbabKaN oLh aLrgi dan bHaN tOksik diman apabiLa tRteLaN, tRhiRuP, aTau tRserap mLaLui Kulit dpat mnyabbkan pnykit akut aTau kRoniK bHkan kEmatian.

    naaH…..
    1. yG iNgn sya tNya kaN bgaImn cRa na mNgatsi kJadian FaktoR tRsbuT sPya tdaK LgI mNjadI msLaH yG nEgaTiF daN bNyaK…..????
    2. aPkaH ada tNgguNg jwB dRi piHaK LboR apbiLa aDa yG tRjadI sPrti d aTaz…???

    tErimksI….
    :))

    • Aria Gusti berkata:

      wuih.. dari pada gak ada kerjaan ?
      ayo kerjain si wira rame2 !

    • wilda delfia berkata:

      okee, wlda juga mau coba jawab pertanyaan dari wira…

      1. cara mengatasi kejadian faktor tsb yaitu:
      selama bekerja dilaboratorium, pekerja WAJIB menggunakan APD, misalnya aja supaya tidak terkena bahan2 kimia, baik itu terhirup, tertelan, atau terkena kulit, maka pekerja diharuskan menggunakan masker dan sarung tangan, menggunakan jas lab atau pakaian yg tangannya panjang, dll sebagainya. sebelum dan setelah keluar dari labor pekerja juga harus steril dari segala macam yang dapat menginfeksi, baik itu faktor biologik maupun kimiawi. oia, gak cuma pekerja labornya aja yg harus menggunakan APD selama bekerja, petugas kebersihannya juga harus berhati2 saat membersihkan ruangan labor atau membuang bahan2 berbahaya yang dapat mengontaminasi mereka…

      2. ada. tentu saja.
      menurut wlda gak jauh beda sama diperusahaan, kalo misalnya pekerjanya mengalami kecelakaan kerja, maka pihak perusahaan wajib memberikan biaya ganti rugi kepada pekerjanya.. maka dari itu, apabila pekerja labor ada yang mengalami PAK atau PAHK dilaboratorium maka pihak labor harus memberikan biaya ganti rugi. misalnya mata pekerja labor terkena larutan berbahaya sehingga pekerja mengalami kebutaan, maka pihak labor memberikan biaya ganti rugi sejumlah yg telah disepakati.
      makanya, agar hal tersebut tidak terjadi, maka pihak labor harus memberikan pengetahuan dan pelatihan kepada para pekerja, memberikan APD sesuai standar, menempelkan peraturan berupa undang2 atau gambar atau peringatan agar dalam setiap pekerjaan dilaboratorium menggunakan APD.

  6. hera gustiana berkata:

    Aslmkm….

    Saya mencoba membantu kelompok 6 menjawab pertanyaan “widya tri octaviana” mengenai waktu ideal untuk pemeriksaan berkala…
    Begini menurut sumber yang saya baca diberitahukan bahwasanya pemeriksaan berkala untuk para pekerja biasanya di lakukan rutin 1 kali setahun dimana gunanya untuk mengetahui record kesehatan para pekerja per tahun dan dapat mengetahui lebih dini penyakit yang ditimbulkan akibat kerja. Namun rentang waktu tersebut dapat berubah sesuai dengan besarnya resiko kesehatan yang dihadapi. Makin besar resiko kerja, makin kecil jarak waktu antar pemeriksaan berkala.
    Lalu mengenai pemeriksaan berkala yang tidak optimal, Saya mencoba menanggapi bahwasanya bagi perusahaan-perusahaan besar pemeriksaan secara berkala menjadi sebuah kewajiban bagi karyawannya dimana hal ini untuk melindungi perusahaan bilamana suatu hari nanti di tuntut oleh pekerjanya karena pekerja merasa penyakit yang di derita olehnya di dapatkan karena bekerja diperusahaan tersebut, sehingga perusahaan besar mewajibkan pekerjanya untuk check up tanpa harus membayar namun akan di fasilitasi secara gratis. Terkadang ada juga perusahaan ingin menekan budget pengeluaran bagi karyawan dengan meniadakan budget kesehatan sehingga pemeriksaan kesehatan secara berkala bagi karyawannya tidak berjalan secara optimal.

  7. hera gustiana berkata:

    Aslmkm….

    Saya ingin mencoba membantu kelompok 6 menjawab pertanyaan “widya tri octaviana” mengenai Waktu ideal untuk pemeriksaan berkala?
    Begini menurut sumber yang saya baca diberitahukan bahwasanya pemeriksaan berkala untuk para pekerja biasanya di lakukan rutin 1 kali setahun dimana gunanya untuk mengetahui record kesehatan para pekerja per tahun dan dapat mengetahui lebih dini penyakit yang ditimbulkan akibat kerja. Namun rentang waktu tersebut dapat berubah sesuai dengan besarnya resiko kesehatan yang dihadapi. Makin besar resiko kerja, makin kecil jarak waktu antar pemeriksaan berkala.
    Lalu mengenai pemeriksaan berkala yang tidak optimal, Saya mencoba menanggapi bahwasanya bagi perusahaan-perusahaan besar pemeriksaan secara berkala menjadi sebuah kewajiban bagi karyawannya dimana hal ini untuk melindungi perusahaan bilamana suatu hari nanti di tuntut oleh pekerjanya karena pekerja merasa penyakit yang di derita olehnya di dapatkan karena bekerja diperusahaan tersebut, sehingga perusahaan besar mewajibkan pekerjanya untuk check up tanpa harus membayar namun akan di fasilitasi secara gratis. Terkadang ada juga perusahaan ingin menekan budget pengeluaran bagi karyawan dengan meniadakan budget kesehatan sehingga pemeriksaan kesehatan secara berkala bagi karyawannya tidak berjalan secara optimal.

  8. Selbyute AP berkata:

    klo membahas mengenai msalah labor, mank dah umm bgt dktahui klo d labor bsr bngt risiko untk brkontak dengan bahaya nd yg akses k labor thu g cm pgawai j, kadang ada mhasiswa ata institusi yg brkpentingan yg menggunakan labor skedar untk prktek bljr atw lainnya. nah yang jd prtnyaan saii, ada g peraturan yg mngatur mngenai knjungan k labor untuk prktek bgi mhsiswa? trus, ada g anggaran pnyediaan APD bgi institusi yang menggunakan labor ataw mhsiswa yg prktek kuly dsna?

  9. wilda delfia berkata:

    waaaah… udah rame ternyata, maaf teman2 kelompok penyajinya “telat datang” :)
    ternyata udah banyak pertanyaan yg nongkrong disini, hhee

    hmmm…..makasii buat hera gustiana yg udah membantu kami menjawab pertanyaan dari teman kita, widya…
    disini wlda mau menambahkan jawaban dari kelompok:
    berdasarkan PP no33 tahun 2007, pasal 9 disebutkan bahwa pemeriksaan kesehatan pekerja dilakukan sebelum pekerjaan yg menggunakan radiasi dilakukan, dan pemeriksaan berkala selama bekerja. berhubung yg ditanya mengenai pemeriksaan berkala, wlda mau menjelaskan sedikit ttg pemeriksaan berkala.
    pemeriksaan berkala ini dilakukan utk memastikan bahwa tidak ada kondisi klinik yg dpt mempengaruhi kesehatan pekerja yg timbul saat bekerja dngan radiasi. sifat pemeriksaannya didasarkan pada tipe pekerjaan yg dilakukan, umur dan status kesehatan, dan perilaku kesehatan pekerja. utk rentang waktu pemeriksaan berkala umumnya sama frekuensinya dgn program pemantauan kesehatan lain. frekuensi pemeriksaan didasarkan pada kondisi kesehatan dan tipe pekerjaan dilabor.
    sependapat dengan hera, waktu pemeriksaan berkala ini antara 1 sampai 2 kali setahun.

    lanjut, utk pemeriksaan yg kurang optimal ini, seharusnya perusahaan/pihak labor melakukan pemeriksaan berkala bagi pekerjanya, apalagi pada pekerja yg banyak terpapar dengan radiasi selama berada dilaboratorium..

  10. wilda delfia berkata:

    buat pertanyaan uthe (selbyute, red)
    hmmm…. kayaknya semua teman2 pasti juga bertanya2 tentang apa yg uthe tanyain..
    termasuk juga wlda :D

    tapi…wlda akan mecoba menjawabnya,
    untuk peraturan yg mngatur mngenai knjungan k labor untuk prktek bgi mhsiswanya itu kalo berupa Undang Undang, setau wlda gak ada (atau mungkin wlda yg belum menemukannya :P)
    penggunaan labor bagi mahasiswa itu tergantung kebijakan dari kampus masing2. semestinya seluruh mahasiswa bisa menggunakan labor untuk praktek sesuai dengan mata kuliahnya. Begitu juga dengan APDnya, seharusnya udah ada anggarannya, kan kita sebagai mahasiswa juga udah bayar uang praktikum, jadi udah sepantasnya kan difasilitasi untuk menggunakan laboratorium…. hhee :P (curcol)

  11. fadillah ulva berkata:

    aslmkm,,,
    tmn2,, ila mewkli klmpk 6,, mncb mnjwb prtnyaan dri tmn2,,
    klw ad yg mw menambahkan dperslakan,,,,

    4 widya:trmksh ats bntuan dri hera,,,,
    hehehe,,,
    btul yg hera blg,,,mgkn qt kenl dgn istilah ‘medicl chek up’,,
    it dlkukan untk mengetahui kesehatan dri pkrja it sndri,, untk mengetahui klw penykit it akbt bkrja d lab trsbt,, itlah gunany pemeriksaan keshtn awal..

    sprti yg qt kethui bhwa klw dlm praketny msh sj trjdi hl seprti yg dsmpaikn oleh sdri widy,,tpi,,, dgn adnya smk3 ini,,,mdah2n bsa memprbaiki kualits k3 dprshaan trsbut,,,

    4 uthe:klw mnrt sya,, psti ad aturn ttg praktkum d labor,,slh satunya sj menggunakan jas lab,, sarung tangan,, dll..
    klw soal dananya,, sprtinya dri mhsiswa it sndri,, sprti pembelian jas lab atw yg lainnya,,dn biaya yg dkluarkan olh mhsiswa akn dgunkan slh satunya untk APD it sndri,,,

    4 wira: haha,,yuk,,,timpukin wra rame2,,,
    hhaha,,,just kidding ra,,,
    y italh fungsiny APD,, SOP,, sprti yg qt kethui bhwa pengendlian trhdp risiko kecelakaan krja trsbut ad 3, yaitu scra administratif,,scra teknis, dan penggunaan APD..
    stiap pkrja yg ad d prshaan biasanya trgabung dlm jaminan kes,,sprti jamsostek,,, shga bs mengatsi hal trsbut,,
    mksi,,

  12. Rika Nofrika berkata:

    asamualaikum wr.wb…………….
    thkans kepd klpk 6 yg menmplkan mklh yg begitu bgs …………….
    ika mo na ………dimn ltk peebdaan pjkt akbt kerja dg pjkt akbt hbngn kerja labortrm keshtn ?dan apa juga hbngn smk3 labor?

  13. wira yelina berkata:

    @ paK aRia: huhuuuuu……..
    jGn LaH pak wiRa d kRjain,,
    kaN kcIaN nTr wira na,,
    :))

    @diLa: huhuuuu….
    jGn dUnK wiRa na d tImpuKin ramE2,,
    bIsa2 wiRa nTr tMbaH kEciL gI,,
    mN uDaH kEciL tMbaH kEciL,,
    heheeee….
    :))

    mmm….
    mKci yaa bUaT diLa aTaz jwBaN na,,
    :))

  14. Rika Nofrika berkata:

    1. dimana letak perbedaan penyakit akibat kerja dengan penyakit akibat hubungan kerja di laboratorium kesehatan?
    2. dan apa hubungannya dengan SMK 3 Labor?
    terimakasih

  15. Sabila syaiful III berkata:

    Ehm….bella mo coba jawab pertanyaan dri rika, Penyakit akibat kerja di laboratorium merupakan efek samping yan trjadi saat bekerja yg mempunyai pentebab spesifik atau asosiasi kuat dgn pekerja, yg pada uumnya terdiri dri satu agen penyebab yg sudah diakui. Kalu di bagian labor, seperti pertanyaan dr wira tadi salah satu penyebab penyakitnya adalah golongan kimiawi, biologik, bisa juga fisik seperti kurang penerangan, sbb contoh alergi, penyakit saluran pernapasn akibt gas atau uap…

    Sedangkan penyakit yang berhub dgn pkerjaan adlah penyakit yg mempunyai bbrpa agen penyebab, dmana faktor pekerja memegang peranan bersama dengan faktor resiko. Mis desin tempa kerja dilabor ngga ergonomi bikin sakit pinggang gunain miskrokop karna bangku tinggi mejanya rendah, stress karena ruangan kerja ng nyaman dsb… melakukan kesalahan d lab karena tdk teliti, sehinnga mikroorganisme yg harus dikarantina bebas n mudah masuk ktubuh. yg tadinya penyakit itu dpat dihindari…euy …euy

    Mungkin teman ad yg mau nambahkan contoh kalu contohnya kurang tpat…n_n

    hubnya tentu banyak sekali…
    Karna d lab kita bekerja dengan bahan kimia, mikroorganisme, alat instrumen yang berpotensi menimbulkan resiko PAK dan PHAK makanya perencanaan , pengotrolan, organizing, dan pelaksanaan K3 harus direalisasikan dlam bentuk SOP, Teknis, APD yg benar di lab

    tambhan bgi tman2 yg blum tau menurut ILO d linz Austria, PAK terbagi tiga…2 td sdah dsebutin satu lagi ”penyakit yang Mengenai Populasi Kerja (disease of fecting working populations) penyakit yg terjdi pad populasi pkerja tanpa adanya agen penyebab dit4 kerja, namun dapat diperberat olh kondisi pekerja yg buruk bg kes… n_n

    • wilda delfia berkata:

      makasii bilaa…udah membantu :)

      wlda juga mau nambahin sedikit buat yang PAK dan PAHK dilaboratorium tu.
      kalo menurut wlda gampangnya gini, kalo PAK itu kan penyakit akibat kerja yang timbul dalam jangka pendek, misalnya seorang pekerja labor yg tangannya terkena HCl sehingga tangannya mengalami luka bakar dan melepuh, terhirup HCN atau H2S sehingga pekerja pingsan, dan lain sebagainya.
      lanjut, sedangkan PAHK itu penyakitnya timbul dalam jangka waktu yg lama, misalnya kayak yg udah dibilang sama bila, posisi antara meja, mikroskop dan tepat duduk yg gak ergonomis lama kelamaan bisa menyebabkan sakit pinggang, atau mungkin pekerja setiap harinya terhirup silikon, debu kapas atau deu logam berat sehingga lama kelamaan terjadi penumpukan diparu2 mengakibatkan silikosis atau bronkhopulmoner, dan lain sebagainya…

      sekian, terimakasih :)

  16. Maimun Sakinah berkata:

    assalamu’alaikum…..
    mau ikutan nanya nih…..
    mengapa bisa muncul hubungan kerja yang kurang serasi antara pimpinan dan bawahan atau sesama teman kerja sehingga menjadi faktor psikologis di laboratorium yang dapat membuat stress???

    tengkiueee….

  17. Pricillia Yuherdha berkata:

    ass,wr,wb…
    disini saya akan mencoba menjawab pertanyaan dari Sdr. Maimun, bahwa banyak faktor yang menyebabkan terjadinya hubungan yang tidak harmonjs dalam bekerja, misalnya adanya faktor persaingan, persaingan dari satu individu dengan individu yang lainnya yang tidak bisa dielakkan sering kali menimbulkan konflik, bila persaingan ini dilandasi oleh keinginan untuk menang sendiri atau egois, maka akan terjadi ketidakseimbangan yang memicu suasana kerja yang tidak harmonis. Faktor lainnya seperti faktor usia, perbedaan pola pikir masing-masing individu, penyalahgunaan sumber daya sehingga nantinya muncul istilah persaingan yang tidak sehat, hal itulah yang memicu terjadinya hubungan yang kurang harmonis dalam pekerjaan..
    sekian..
    trims…

  18. Maimun Sakinah berkata:

    assalamu’alaikum…
    terima kasih atas jawaban dar Sdri Pricillia Yuherdha….
    tapi masih ada keraguan dibenak saya…
    saya rasa dalam bekerja memang wajar saja ada persaingan, namun apakah ada persaingan kerja di laboratorium??? sapengetahuan saya kerja di lab itu adalah pekerjaan yang sangat objektif, maksudnya apabila ada pemeriksaan,penelitian, atau uji coba apa yang didapat hasilnya,ya memang itu, tidak bisa diubah2, kecuali di periksa kembali, itu pun harus dgn alat sehingga hasilnya adalah objektif, bkn subjektif..
    mohon ditanggapi kembali ya…..
    trims..
    wassalam…

Komentar ditutup.