Tugas Kelompok : Ergonomi di Tempat Kerja

Anggota Kelompok : 1)Erwin Pulman; 2)Novera Zuli Sekartaji; 3)Khairiyanti

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Perkembangan teknologi saat ini begitu pesatnya, sehingga peralatan sudah menjadi kebutuhan pokok pada berbagai lapangan pekerjaan. Artinya peralatan dan teknologi merupakan penunjang yang penting dalam upaya meningkatkan produktivitas untuk berbagai jenis pekerjaan. Disamping itu disisi lain akan terjadi dampak negatifnya, bila kita kurang waspada menghadapi bahaya potensial yang mungkin timbul.
Hal ini tidak akan terjadi jika dapat diantisipasi pelbagai risiko yang mempengaruhi kehidupan para pekerja. berbagai risiko tersebut adalah kemungkinan terjadinya Penyakit Akibat Kerja, Penyakit yang berhubungan dengan pekerjaan dan Kecelakaan Akibat Kerja yang dapat menyebabkan kecacatan atau kematian. Antisipasi ini harus dilakukan oleh semua pihak dengan cara penyesuaian antara pekerja, proses kerja dan lingkungan kerja. Pendekatan ini dikenal sebagai pendekatan ergonomik.

B. Rumusan Masalah

Permasalahan yang berkaitan dengan faktor ergonomi umumnya disebabkan oleh adanya ketidaksesuaian antara pekerja dan lingkungan kerja secara menyeluruh termasuk peralatan kerja. Maksud dan tujuan ergonomi diarahkan pada upaya memperbaiki performance kerja manusia dan mampu memperbaiki pendayagunaan SDM serta meminimalisir kerusakan alat atau peralatan yang disebabkan oleh kesalahan manusia (Human Error). Sedangkan pendekatan khusus ergonomi merupakan aplikasi sistematis dari segala informasi yang relevan berkaitan dengan karakteristik dan perilaku manusia dalam perencanaan peralatan, fasilitas dan lingkungan kerja yang dipakai

C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Tujuan Umum dari penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui tentang Ergonomi di Tempat Kerja.
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui defenisi Ergonomi.
b. Untuk mengetahui tujuan dan ruang lingkup Ergonomi.
c. Untuk mengetahui metode-metode Ergonomi.
d. Untuk mengetahui penyakit-penyakit di tempat kerja yang berkaitan dengan ergonomi.
e. Untuk mengetahui aplikasi ergonomi untuk perancangan tempat kerja.

BAB II
TINJAUAN TEORITIS

A. Defenisi Ergonomi

Ergonomi yaitu ilmu yang mempelajari perilaku manusia dalam kaitannya dengan pekerjaan mereka. Sasaran penelitian ergonomi ialah manusia pada saat bekerja dalam lingkungan. Secara singkat dapat dikatakan bahwa ergonomi ialah penyesuaian tugas pekerjaan dengan kondisi tubuh manusia ialah untuk menurunkan stress yang akan dihadapi. Upayanya antara lain berupa menyesuaikan ukuran tempat kerja dengan dimensi tubuh agar tidak melelahkan, pengaturan suhu, cahaya dan kelembaban bertujuan agar sesuai dengan kebutuhan tubuh manusia.
Ada beberapa definisi menyatakan bahwa ergonomi ditujukan untuk “fitting the job to the worker”, sementara itu ILO antara lain menyatakan, sebagai ilmu terapan biologi manusia dan hubungannya dengan ilmu teknik bagi pekerja dan lingkungan kerjanya, agar mendapatkan kepuasan kerja yang maksimal selain meningkatkan produktivitasnya”.

B. Tujuan, Manfaat, dan Ruang Lingkup Ergonomi

Pelaksanaan dan penerapan ergonomi di tempat kerja dimulai dari yang sederhana dan pada tingkat individual terlebih dahulu. Rancangan yang ergonomis akan dapat meningkatkan efisiensi, efektifitas dan produktivitas kerja, serta dapat menciptakan sistem serta lingkungan kerja yang cocok, aman, nyaman dan sehat.
Adapun tujuan penerapan ergonomi adalah sebagai berikut :
1. Meningkatkan kesejahteraan fisik dan mental, dengan meniadakan beban kerja tambahan (fisik dan mental), mencegah penyakit akibat kerja, dan meningkatkan kepuasan kerja.
2. Meningkatkan kesejahteraan sosial dengan jalan meningkatkan kualitas kontak sesama pekerja, pengorganisasian yang lebih baik dan menghidupkan sistem kebersamaan dalam tempat kerja.
3. Berkontribusi di dalam keseimbangan rasional antara aspek-aspek teknik, ekonomi, antropologi dan budaya dari sistem manusia-mesin untuk tujuan meningkatkan efisiensi sistem manusia-mesin.
Manfaat pelaksanaan ergonomi adalah sebagai berikut:
1. Menurunnya angka kesakitan akibat kerja.
2. Menurunnya kecelakaan kerja.
3. Biaya pengobatan dan kompensasi berkurang.
4. Stress akibat kerja berkurang.
5. Produktivitas membaik.
6. Alur kerja bertambah baik.
7. Rasa aman karena bebas dari gangguan cedera.
8. Kepuasan kerja meningkat.
Ruang lingkup ergonomi sangat luas aspeknya, antara lain meliputi :
1. Tehnik
2. Fisik
3. Pengalaman psikis
4. Anatomi, utamanya yang berhubungan dengan kekuatan dan gerakan otot dan persendian
5. Anthropometri
6. Sosiologi
7. Fisiologi, terutama berhubungan dengan temperatur tubuh, Oxygen up take, pols, dan aktivitas otot.
8. Desain, dll.

C. Metode-metode Ergonomi

1. Diagnosis
Dapat dilakukan melalui wawancara dengan pekerja, inspeksi tempat kerja penilaian fisik pekerja, uji pencahayaan, ergonomik checklist dan pengukuran lingkungan kerja lainnya. Variasinya akan sangat luas mulai dari yang sederhana sampai kompleks.

2. Treatment
Pemecahan masalah ergonomi akan tergantung data dasar pada saat diagnosis. Kadang sangat sederhana seperti merubah posisi meubel, letak pencahayaan atau jendela yang sesuai. Membeli furniture sesuai dengan demensi fisik pekerja.

3. Follow-up
Dengan evaluasi yang subyektif atau obyektif, subyektif misalnya dengan menanyakan kenyamanan, bagian badan yang sakit, nyeri bahu dan siku, keletihan, sakit kepala dan lain-lain. Secara obyektif misalnya dengan parameter produk yang ditolak, absensi sakit, angka kecelakaan dan lain-lain.

Aplikasi/penerapan Ergonomik:
1. Posisi Kerja
Terdiri dari posisi duduk dan posisi berdiri, posisi duduk dimana kaki tidak terbebani dengan berat tubuh dan posisi stabil selama bekerja. Sedangkan posisi berdiri dimana posisi tulang belakang vertikal dan berat badan tertumpu secara seimbang pada dua kaki.
2. Proses Kerja
Para pekerja dapat menjangkau peralatan kerja sesuai dengan posisi waktu bekerja dan sesuai dengan ukuran anthropometrinya. Harus dibedakan ukuran anthropometri barat dan timur.
3. Tata Letak Tempat Kerja
Display harus jelas terlihat pada waktu melakukan aktivitas kerja. Sedangkan simbol yang berlaku secara internasional lebih banyak digunakan daripada kata-kata.
4. Mengangkat beban
Bermacam-macam cara dalam mengangkat beban yakni, dengan kepala, bahu, tangan, punggung, dll. Beban yang terlalu berat dapat menimbulkan cedera tulang punggung, jaringan otot dan persendian akibat gerakan yang berlebihan.

a. Menjinjing beban
Beban yang diangkat tidak melebihi aturan yang ditetapkan ILO sbb:
-Laki-laki dewasa 40 kg
-Wanita dewasa 15-20 kg
-Laki-laki (16-18 th) 15-20 kg
-Wanita (16-18 th) 12-15 kg
b. Organisasi kerja
Pekerjaan harus di atur dengan berbagai cara :
-Alat bantu mekanik diperlukan kapanpun
-Frekuensi pergerakan diminimalisasi
-Jarak mengangkat beban dikurangi
-Dalam membawa beban perlu diingat bidangnya tidak licin dan mengangkat tidak terlalu tinggi.
-Prinsip ergonomi yang relevan bisa diterapkan.

c. Metode mengangkat beban
Semua pekerja harus diajarkan mengangkat beban. Metode kinetik dari pedoman penanganan harus dipakai yang didasarkan pada dua prinsip :
-Otot lengan lebih banyak digunakan dari pada otot punggung
-Untuk memulai gerakan horizontal maka digunakan momentum berat badan.
Metoda ini termasuk 5 faktor dasar :
1. Posisi kaki yang benar
2. Punggung kuat dan kekar
3. Posisi lengan dekat dengan tubuh
4. Mengangkat dengan benar
5. Menggunakan berat badan

D. Penyakit-penyakit di Tempat Kerja yang Berkaitan dengan Ergonomi
Semua pekerja secara kontinyu harus mendapat supervisi medis teratur. Supervisi medis yang biasanya dilakukan terhadap pekerja antara lain :
1. Pemeriksaan sebelum bekerja
Bertujuan untuk menyesuaikan dengan beban kerjanya.
2. Pemeriksaan berkala
Bertujuan untuk memastikan pekerja sesuai dengan pekerjaannya dan mendeteksi bila ada kelainan.
3. Nasehat
Harus diberikan tentang hygiene dan kesehatan, khususnya pada wanita muda dan yang sudah berumur.

Setelah pekerja melakukan pekerjaannya maka umumnya terjadi kelelahan, dalam hal ini kita harus waspada dan harus kita bedakan jenis kelelahannya, beberapa ahli membedakan / membaginya sebagai berikut :
1. Kelelahan fisik
Kelelahan fisik akibat kerja yang berlebihan, dimana masih dapat dikompensasi dan diperbaiki performansnya seperti semula. Kalau tidak terlalu berat kelelahan ini bisa hilang setelah istirahat dan tidur yang cukup.
2. Kelelahan yang patologis
Kelelahan ini tergabung dengan penyakit yang diderita, biasanya muncul tiba-tiba dan berat gejalanya.
3. Psikologis dan emotional fatique
Kelelahan ini adalah bentuk yang umum. Kemungkinan merupakan sejenis “mekanisme melarikan diri dari kenyataan” pada penderita psikosomatik. Semangat yang baik dan motivasi kerja akan mengurangi angka kejadiannya di tempat kerja.

Upaya kesehatan kerja dalam mengatasi kelelahan, meskipun seseorang mempunyai batas ketahanan, akan tetapi beberapa hal di bawah ini akan mengurangi kelelahan yang tidak seharusnya terjadi :
a. Lingkungan harus bersih dari zat-zat kimia. Pencahayaan dan ventilasi harus memadai dan tidak ada gangguan bising.
b. Jam kerja sehari diberikan waktu istirahat sejenak dan istirahat yang cukup saat makan siang.
c. Kesehatan pekerja harus tetap dimonitor.
d. Tempo kegiatan tidak harus terus menerus.
e. Waktu perjalanan dari dan ke tempat kerja harus sesingkat mungkin, kalau memungkinkan.
f. Secara aktif mengidentifikasi sejumlah pekerja dalam peningkatan semangat kerja.
g. Fasilitas rekreasi dan istirahat harus disediakan di tempat kerja.
h. Waktu untuk liburan harus diberikan pada semua pekerja
i. Kelompok pekerja yang rentan harus lebih diawasi misalnya;
 Pekerja remaja
 Wanita hamil dan menyusui
 Pekerja yang telah berumur
 Pekerja shift
 Migrant.
j. Para pekerja yang mempunyai kebiasaan pada alkohol dan zat stimulan atau zat addiktif lainnya perlu diawasi.
Pemeriksaan kelelahan :
Tes kelelahan tidak sederhana, biasanya tes yang dilakukan seperti tes pada kelopak mata dan kecepatan reflek jari dan mata serta kecepatan mendeteksi sinyal, atau pemeriksaan pada serabut otot secara elektrik dan sebagainya.
Persoalan yang terpenting adalah kelelahan yang terjadi apakah ada hubungannya dengan masalah ergonomi, karena mungkin saja masalah ergonomi akan mempercepat terjadinya kelelahan.

E. Aplikasi Ergonomi untuk Perancangan Tempat Kerja
Pelatihan bidang ergonomi sangat penting, sebab ahli ergonomi umumnya berlatar belakang pendidikan tehnik, psikologi, fisiologi atau dokter, meskipun ada juga yang dasar keilmuannya tentang desain, manajer dan lain-lain. Akan tetapi semuanya ditujukan pada aspek proses kerja dan lingkungan kerja.

BAB III
STUDI KASUS

A. Permasalahan Ergonomi

Penanggulangan permasalahan ergonomi di setiap jenis pekerjaan dapat dilakukan setelah mengetahui terlebih dahulu bagaimana proses kerja dan posisi kerjanya. Di bawah ini akan diuraikan contoh masalah ergonomi yang dapat timbul akibat ketidaksesuaian antara pekerja dan pekerjaannya :

Perajin Kerupuk
Pekerjaan membuat kerupuk menggunakan bahan baku: tepung tapioka, kanji, bahan tambahan pewarna dan penyedap. Hasil produksinya berupa kerupuk yang siap dimakan.
Proses dan Posisi Kerja:
1. Pembuatan adonan kerupuk
Tepung tapioka dalam karung seberat 50 kg diangkat berdua dari tempat penampungan ke tempat pembuatan adonan yang berjarak 2-8 meter. Bahan baku tersebut diaduk rata secara mekanis selama 3-5 menit atau secara manual selama 7-10 menit. Selanjutnya adonan tersebut diuleni kembali secara manual selama 2 menit untuk mendapatkan adonan homogen.
Posisi kerja :
Proses menguleni adonan dilakukan sambil berdiri dengan meja kerja permanen setinggi 70 cm yang terbuat dari ubin/kayu dan berat adonan 6-8 kg.
2. Pencetakan
Selanjutnya adoanan yang sudah homogen tersebut dimasukkan ke dalam pencetak dan dimampatkan secara mekanis atau manual dan didapat keluaran berupa benang-benang adonan setebal 1 mm dari lobang pencetak, benang-benang adonan ditampung pada pencetak kerupuk sambil diputar-putar sehingga didapat bentuk yang bulat.
Posisi kerja :
Pekerjaan pencetakan dilakukan sambil duduk di lantai.
3. Pengkukusan
Kerupuk mentah tersebut segera dimatangkan dengan cara pengkukusan selama 5 – 10 menit dan setelah matang dipindah satu persatu dengan cara menjepit dengan jari-jari tangan ke tempat yang lebih besar untuk dijemur di luar ruangan. Pemindahan ke luar ruangan dilakukan dengan mengangkat tampah tersebut tinggi-tinggi dengan kedua tangan.
Posisi kerja :
Pekerjaan memindahkan kerupuk setelah selesai dikukus dilakukan pada posisi duduk di lantai / jongkok.
4. Penjemuran
Kerupuk dijemur. Setelah kering ditampung dalam keranjang plastik dengan berat per keranjang 17-20 kg untuk disimpan sementara menunggu untuk digoreng.
Posisi kerja : berdiri dengan tempat jemuran (para-para) yang terlalu rendah.
5. Penggorengan
Kerupuk kering dalam keranjang dipindah ke tempat penggorengan yang berjarak 10 – 12 meter. Proses penggorengan kerupuk dilakukan dalam 2 tahap, dengan minyak dingin dilanjutkan dengan minyak panas.
Posisi kerja :
Proses penggorengan dilakukan dengan posisi berdiri dengan 2 penggorengan dan tinggi wajan 70 cm; selesai digoreng kerupuk dikemas dalam kaleng besar. Aliran udara di bagian ini kurang baik.
6. Pengemasan
Posisi kerja : proses pengemasan dalam posisi berdiri membungkuk.

B. Penanggulangan Permasalahan Ergonomi

Aplikasi ergonomi dapat dilaksanakan dengan prinsip pemecahan masalah; tahap awal adalah identifikasi masalah yang sedang dihadapi. Hal ini dapat dilakukan dengan mengumpulkan sebanyak mungkin informasi. Langkah selanjutnya adalah menentukan prioritas masalah, masalah yang paling mencolok harus ditangani lebih dahulu. Setelah analisis dikerjakan, maka satu atau dua alternatif intervensi harus diusulkan. Pada pengenalan/rekognisi ada 3 hal yang harus diperhatikan, ketiganya berinteraksi dalam penerapan ergonomi dengan fokus utama pada sumber daya manusia
1. Kesehatan mental dan fisik harus diperhatikan untuk diperbaiki sehinggga didapatkan tenaga kerja yang sehat fisik, rohani dan sosial yang memungkinkan mereka hidup produktif baik secara sosial maupun ekonomi.
2. Kemampuan jasmani dapat diketahui dengan melakukan pemeriksaan antropometri, lingkup gerak sendi dan kekuatan otot.
3. Lingkungan tempat kerja
– Harus memberikan ruang gerak secukupnya bagi tubuh dan anggota badan sehingga dapat bergerak secara leluasa dan efisien.
- Dapat menimbulkan rasa aman dan tidak menimbulkan stres lingkungan.
4. Pembebanan kerja fisik
Selama bekerja, kebutuhan peredaran darah dapat meningkat sepuluh sampai dua puluh kali. Meningkatnya peredaran darah pada otot-otot yang bekerja, memaksa jantung untuk memompa darah lebih banyak.
Kerja otot dapat dikelompokkan menjadi dua jenis yaitu:
- Kerja otot dinamik, ditandai dengan kontraksi bergantian yang berirama dan ekstensi, ketegangan dan istirahat.
- Kerja otot statik, ditandai oleh kontraksi otot yang lama yang biasanya sesuai dengan sikap tubuh. Tidak dianjurkan untuk meneruskan kerja otot statik dalam jangka lama karena akan timbul rasa nyeri dan memaksa tenaga kerja untuk berhenti.
5. Sikap tubuh dalam bekerja
Sikap tubuh dalam bekerja berhubungan dengan tempat duduk, meja kerja dan luas pandangan. Untuk merencanakan tempat kerja dan perlengkapannya diperlukan ukuran-ukuran tubuh yang menjamin sikap tubuh paling alamiah dan me-mungkinkan dilakukannya gerakan-gerakan yang dibutuhkan. Pada posisi berdiri dengan pekerjaan ringan, tinggi optimum area kerja adalah 5-10 cm di bawah siku. Agar tinggi optimum ini dapat diterapkan, maka perlu diukur tinggi siku yaitu jarak vertikal dari lantai ke siku dengan keadaan lengan bawah mendatar dan lengan atas vertikal. Tinggi siku pada laki-laki misalnya 100 cm dan pada wanita misalnya 95 cm, maka tinggi meja kerja bagi laki-laki adalah antara 90-95 cm dan bagi wanita adalah antara 85-90 cm.
Keterangan:
Nilai cacat.
a. MMT 0 kehilangan fungsi 100%
b. MMT 1 kehilangan fungsi 80%
c. MMT 2 kehilangan fungsi 60%
d. MMT 3 kehilangan fungsi 40%
e. MMT 4 kehilangan fungsi 20%
f. MMT 5 kehilangan fungsi 0%
Fleksor : Memperkecil sudut di antara 2 bagian rangka dalam bidang sagital.
Extensor : Memperbesar sudut di antara 2 bagian rangka dalam bidang sagital.
Rotator : Gerak sekeliling sumbu panjang bagian rangka atau sekeliling sumbu yang hampir berhimpit dengan sumbu panjang itu.
Abduktor : Menjauhkan bagian rangka dari bidang tengah badan.
Adduktor : Mendekatkan bagian rangka dari bidang tengah badan.

BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Penerapan Ergonomi di tempat kerja bertujuan agar pekerja saat bekerja selalu dalam keadaan sehat, nyaman, selamat, produktif dan sejahtera. Untuk dapat mencapai tujuan tersebut, perlu kemauan, kemampuan dan kerjasama yang baik dari semua pihak. Pihak pemerintah dalam hal ini Departemen Kesehatan sebagai lembaga yang bertanggungjawab terhadap kesehatan masyarakat, membuat berbagai peraturan, petunjuk teknis dan pedoman K3 di Tempat Kerja serta menjalin kerjasama lintas program maupun lintas sektor terkait dalam pembinaannya

B. Saran
• Pendekatan disiplin ergonomi diarahkan pada upaya memperbaiki performansi kerja manusia seperti menambah kecepatan kerja, accuracy, keselamatan kerja disamping untuk mengurangi energi kerja yang berlebihan serta mengurangi datangnya kelelahan yang terlalu cepat. Disamping itu disiplin ergonomi diharapkan mampu memperbaiki pendayagunaan sumber daya manusia serta meminimalkan kerusakan peralatan yang disebabkan kesalahan manusia (human errors). Manusia adalah manusia, bukannya mesin. Mesin tidak seharusnya mengatur manusia, untuk itu bebanilah manusia (operator/pekerja) dengan tugas-tugas yang manusiawi.
• Pendekatan khusus yang ada dalam disiplin Ergonomi ialah aplikasi yang sistematis dari segala informasi yang relevan yang berkaitan dengan karakteristik dan perilaku manusia didalam perancangan peralatan, fasilitas dan lingkungan kerja yang dipakai.

DAFTAR PUSTAKA

Cermin Dunia Kedokteran No. 154, 2007

http://www.ergoweb.com/news/SubscribeNewsletter.cfm

http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2010/02/tugas-ergonomi-3/

Pusat Kesehatan Kerja Departemen Kesehatan RI

About these ads

Tentang Aria Gusti

Hi, I am =arya= a lecture at School of Public Health, Andalas University, Padang, West Sumatera.
Tulisan ini dipublikasikan di Presentasi Online. Tandai permalink.

16 Balasan ke Tugas Kelompok : Ergonomi di Tempat Kerja

  1. Aria Gusti berkata:

    Silahkan kelompok lain kalau ada yang bertanya, memberikan pendapat atau saran. Diskusi kita ini diakses oleh pembaca blog ini. Tunjukkan kemampuan intelektual anda!

  2. emmifauzianti berkata:

    Saya setuju sekali dengan kalimat bijak berikut ini ” Mesin tidak seharusnya mengatur manusia, untuk itu bebanilah manusia (operator/pekerja) dengan tugas-tugas yang manusiawi.” Kalau ada perusahaan / tempat kerja yang tidak ergonomis bagaimana tanggapan kita sebaiknya ? Apa yang harus kita lakukan ? MOhon tanggapan dari kelompok 5 , terimkasih….

  3. afis berkata:

    saya akan menjawab kalau tempat kerja tidak ergonomis maka kita membuat tempat kerja kiita ergonomis dengan
    Aplikasi/penerapan Ergonomik:
    1. Posisi Kerja
    Terdiri dari posisi duduk dan posisi berdiri, posisi duduk dimana kaki tidak terbebani dengan berat tubuh dan posisi stabil selama bekerja. Sedangkan posisi berdiri dimana posisi tulang belakang vertikal dan berat badan tertumpu secara seimbang pada dua kaki.
    2. Proses Kerja
    Para pekerja dapat menjangkau peralatan kerja sesuai dengan posisi waktu bekerja dan sesuai dengan ukuran anthropometrinya. Harus dibedakan ukuran anthropometri barat dan timur.
    3. Tata Letak Tempat Kerja
    Display harus jelas terlihat pada waktu melakukan aktivitas kerja. Sedangkan simbol yang berlaku secara internasional lebih banyak digunakan daripada kata-kata.

  4. ismadi berkata:

    saya mau bertanya pada kelompok 1 apakah di setiap perusahaan yang berada di sumatera barat ini telah menerapkan sistem kerja yang Ergonomis?sekiranya belum apa tindakan anda jika anda dipercayai untuk memonitoring setiap perusahaan tersebut agar budaya Ergonomis dapat diterapkan.

  5. ismadi berkata:

    saya mau bertanya pada kelompok 1 apakah di setiap perusahaan yang berada di sumatera barat ini telah menerapkan sistem kerja yang Ergonomis?sekiranya belum apa tindakan anda jika anda dipercayai untuk menagani setiap perusahaan tersebut agar budaya Ergonomis dapat diterapkan.baik terhadap perusahaan,pekerja,dan pada pemerintah sebagai penguasa wilayah

  6. Asrif yanto berkata:

    Ass.
    Sy mhn penjelasan dari klpk 1.
    Dalam bedah kasus anda sdh menceritakan proses pekerjaan pembuatan kerupuk dg aspek ergonomisnya, sy mhn dijelskn juga penyakit atw keluhan yg dirasakan oleh pekerja per proses yg diceritakan.
    wsl

  7. Asrif yanto berkata:

    Ass.
    Sy ingin mengomentari pertanyaan pak ismadi.
    Pak is menurut sy udh psti tdk, krn sy ykn tdk semua ush terdata pa lg yg mini home industri.
    Untk menrpkan sitm kerj yg ergonomis tindakan yg mungkin bs dilaksnakan adalah pendataan yg valid dg memberdayakan tim kelurahan / wilayah setmpt agr mau scr partisipatif memberikan lap yg valid. Stlh data didpt maka dilakukan pemberdayaan scr trs mnrus kpd semua pelaku usaha dan melakkn peningktn pengetahuan yg outputnya agr mau scr aktif menrapkan sistem ergonomi. Sulit memang tp hrs ttp terus dilakukan.

  8. Asrif yanto berkata:

    Ass.
    Kpd kel 1, bolehkah sy minta penjelasan ttg hal dibawah?
    Nilai cacat.
    a. MMT 0 kehilangan fungsi 100%
    b. MMT 1 kehilangan fungsi 80%
    c. MMT 2 kehilangan fungsi 60%
    d. MMT 3 kehilangan fungsi 40%
    e. MMT 4 kehilangan fungsi 20%
    f. MMT 5 kehilangan fungsi 0%

  9. andika berkata:

    Saya ingin bertanya kpd kelompok 5:
    Bagaimanakah seharusnya penerapan ergonomi didalam bekerja menurut ilmu K3 dari studi kasus diatas serta Apa saja dampak yang dapat ditimbulkan oleh kegiatan yang tidak ergonomis???

  10. Aria Gusti berkata:

    Pada kemana nih anggota kelompok.. kok dianggurin para penanya ?
    Padahal pakar2 nya disini.. hehe

  11. emmifauzianti berkata:

    Klpk V………………… ?
    Masih adakah saudaraku disana ?
    Semoga baik2 saja …………. nggak jadi relawan ke mentawai do kan ?
    Waduh…. pertanyaan aq kok kagak dijawab sihh….. ? ngga’ penting yah…
    wkwkwkwkwk….
    Ayo dong dijawab, masa’ afis yng dari klpk lain yg lbh dulu coment….. jgn mau kalah dong…..

  12. Jesiska Sonya berkata:

    Asalamualaikum >>>>> sedikit pertanyaan saia dari kelompok III….

    Penerapan Ergonomi di tempat kerja bertujuan agar pekerja saat bekerja selalu dalam keadaan sehat, nyaman, selamat, produktif dan sejahtera. Untuk dapat mencapai tujuan tersebut, perlu kemauan, kemampuan dan kerjasama yang baik dari semua pihak. Pihak pemerintah dalam hal ini Departemen Kesehatan sebagai lembaga yang bertanggungjawab terhadap kesehatan masyarakat. Bisakah anda menjelaska usaha usaha apa saja yang telah di laksanakan pemenrintah dalam penerapan ergonomi tersebut.
    terimakasihhhhhhhh *******

  13. khairi yanti berkata:

    Ass.. wr wb…
    sebelumnya saya mohon maaf atas keterlambatan membalas coment teman2..
    pertama saya akan mencoba menjawab pertanyaan saudara andikai :
    1. Bagaimanakah seharusnya penerapan ergonomi didalam bekerja menurut ilmu K3 dari studi kasus diatas serta Apa saja dampak yang dapat ditimbulkan oleh kegiatan yang tidak ergonomis???
    Penerapan Ergonomis Ergonomi
    1. Diagnosis, dapat dilakukan melalui wawancara dengan pekerja,
    inspeksi tempat kerja penilaian fisik pekerja, uji pencahayaan,
    ergonomik checklist dan pengukuran lingkungan kerja lainnya.
    Variasinya akan sangat luas mulai dari yang sederhana sampai
    kompleks.
    2. Treatment, pemecahan masalah ergonomi akan tergantung data dasar
    pada saat diagnosis. Kadang sangat sederhana seperti merubah posisi
    meubel, letak pencahayaan atau jendela yang sesuai. Membeli
    furniture sesuai dengan demensi fisik pekerja.
    3. Follow-up, dengan evaluasi yang subyektif atau obyektif, subyektif
    misalnya dengan menanyakan kenyamanan, bagian badan yang sakit,
    nyeri bahu dan siku, keletihan , sakit kepala dan lain-lain. Secara
    obyektif misalnya dengan parameter produk yang ditolak, absensi
    sakit, angka kecelakaan dan lain-lain.
    Aplikasi/penerapan Ergonomik:
    1. Posisi Kerja terdiri dari posisi duduk dan posisi berdiri, posisi duduk
    dimana kaki tidak terbebani dengan berat tubuh dan posisi stabil
    selama bekerja. Sedangkan posisi berdiri dimana posisi tulang
    belakang vertikal dan berat badan tertumpu secara seimbang pada
    dua kaki.
    2. Proses Kerja
    Para pekerja dapat menjangkau peralatan kerja sesuai dengan posisi
    waktu bekerja dan sesuai dengan ukuran anthropometrinya. Harus
    dibedakan ukuran anthropometri barat dan timur.
    3. Tata letak tempat kerja
    Display harus jelas terlihat pada waktu melakukan aktivitas kerja.
    Sedangkan simbol yang berlaku secara internasional lebih banyak
    digunakan daripada kata-kata.
    4. Mengangkat beban
    Bermacam-macam cara dalam mengangkat beban yakni, dengan
    kepala, bahu, tangan, punggung dsbnya. Beban yang terlalu berat
    dapat menimbulkan cedera tulang punggung, jaringan otot dan
    persendian akibat gerakan yang berlebihan.
    a. Menjinjing beban
    Beban yang diangkat tidak melebihi aturan yang ditetapkan ILO
    sbb:
    - Laki-laki dewasa 40 kg
    - Wanita dewasa 15-20 kg
    - Laki-laki (16-18 th) 15-20 kg
    - Wanita (16-18 th) 12-15 kg
    b. Organisasi kerja
    Pekerjaan harus di atur dengan berbagai cara :
    - Alat bantu mekanik diperlukan kapanpun
    - Frekuensi pergerakan diminimalisasi
    - Jarak mengangkat beban dikurangi
    - Dalam membawa beban perlu diingat bidangnya tidak licin dan
    mengangkat tidak terlalu tinggi.
    - Prinsip ergonomi yang relevan bisa diterapkan.
    c. Metode mengangkat beban
    Semua pekerja harus diajarkan mengangkat beban. Metode kinetik
    dari pedoman penanganan harus dipakai yang didasarkan pada
    dua prinsip :
    - Otot lengan lebih banyak digunakan dari pada otot punggung
    - Untuk memulai gerakan horizontal maka digunakan momentum
    berat badan.
    Metoda ini termasuk 5 faktor dasar :
    o Posisi kaki yang benar
    o Punggung kuat dan kekar
    o Posisi lengan dekat dengan tubuh
    o Mengangkat dengan benar
    o Menggunakan berat badan
    d. Supervisi medis
    Semua pekerja secara kontinyu harus mendapat supervisi medis
    teratur.
    - Pemeriksaan sebelum bekerja untuk menyesuaikan dengan
    beban kerjanya
    - Pemeriksaan berkala untuk memastikan pekerja sesuai dengan
    pekerjaannya dan mendeteksi bila ada kelainan
    - Nasehat harus diberikan tentang hygiene dan kesehatan,
    khususnya pada wanita muda dan yang sudah berumur.
    Kelelahan/Fatique
    Setelah pekerja melakukan pekerjaannya maka umumnya terjadi
    kelelahan, dalam hal ini kita harus waspada dan harus kita bedakan
    jenis kelelahannya, beberapa ahli membedakan/membaginya sebagai
    berikut :
    1. Kelelahan fisik
    Kelelahan fisik akibat kerja yang berlebihan, dimana masih dapat
    dikompensasi dan diperbaiki performansnya seperti semula. Kalau
    tidak terlalu berat kelelahan ini bisa hilang setelah istirahat dan tidur
    yang cukup.
    2. Kelelahan yang patologis
    Kelelahan ini tergabung dengan penyakit yang diderita, biasanya
    muncul tiba-tiba dan berat gejalanya.
    3. Psikologis dan emotional fatique
    Kelelahan ini adalah bentuk yang umum. Kemungkinan merupakan
    sejenis “mekanisme melarikan diri dari kenyataan” pada penderita
    psikosomatik. Semangat yang baik dan motivasi kerja akan
    mengurangi angka kejadiannya di tempat kerja.
    4. Upaya kesehatan kerja dalam mengatasi kelelahan, meskipun
    seseorang mempunyai batas ketahanan, akan tetapi beberapa hal
    dibawah ini akan mengurangi kelelahan yang tidak seharusnya
    terjadi :
    · Lingkungan harus bersih dari zat-zat kimia. Pencahayaan dan
    ventilasi harus memadai dan tidak ada gangguan bising
    · Jam kerja sehari diberikan waktu istirahat sejenak dan istirahat
    yang cukup saat makan siang.
    · Kesehatan pekerja harus tetap dimonitor.
    · Tempo kegiatan tidak harus terus menerus
    · Waktu perjalanan dari dan ke tempat kerja harus sesingkat
    mungkin, kalau memungkinkan.
    · Secara aktif mengidentifikasi sejumlah pekerja dalam
    peningkatan semangat kerja.
    · Fasilitas rekreasi dan istirahat harus disediakan di tempat kerja.
    · Waktu untuk liburan harus diberikan pada semua pekerja
    · Kelompok pekerja yang rentan harus lebih diawasi misalnya;
    - Pekerja remaja
    - Wanita hamil dan menyusui
    - Pekerja yang telah berumur
    - Pekerja shift
    - Migrant.
    · Para pekerja yang mempunyai kebiasaan pada alkohol dan zat
    stimulan atau zat addiktif lainnya perlu diawasi.
    2. pertanyaan dari saudara jesiska
    *Usaha yang dilakukan oleh pemerintah dalam penerapan ergonomi*
    Penerapan Ergonomi di tempat kerja bertujuan agar pekerja saat
    bekerja selalu dalam keadaan sehat, nyaman, selamat, produktif dan
    sejahtera. Untuk dapat mencapai tujuan tersebut, perlu kemauan,
    kemampuan dan kerjasama yang baik dari semua pihak. Pihak pemerintah
    dalam hal ini Departemen Kesehatan sebagai lembaga yang bertanggungjawab
    terhadap kesehatan masyarakat, membuat berbagai peraturan,
    petunjuk teknis dan pedoman K3 di Tempat Kerja serta menjalin kerjasama
    lintas program maupun lintas sektor terkait dalam pembinaannya.

  14. desi asusanti berkata:

    Melihat dari akibat yg di timbulkan jika desain t4 kerja tdk ergonomi mmg sangat komplek mulai dari masalah fisik, psikis dan sosial, sekarang kita juga tdk bisa menutup mata akan keadaan tenaga kerja yang selalu berada dalam posisi yg lemah, apa lagi isu terakhir di mana UU ttg ketenaga kerjaan akan di robah yg mana posisi tenaga kerja itu akan semakin terjepit. Jika kita berharap ergonomi itu di ciptakan saja olh sebuah perusahaan ,tentu itu akan sulit untuk diterapkan karena bagaimana pun sebuah perusahaan pasti akan memakai prinsip ekonomi (tau semuakan ?) jadi menurut kelompok bagaimana menghadapi masalah seperti ini dan sejauh mana pemerintah dan hukum bs bertindak dalam kasus ini.

  15. ANDIKA berkata:

    Baiklah saya akan menanggapi jawaban dari kelompok ergonomi…….
    Klw menurut saya jawaban yg diberikan hanya ergonomi secara umum….Yg saya minta penjelasannya adalah dari studi kasus yang ada di makalah……!!!!Bagaimana Tanggapannya tentang hal ini??????

  16. emmifauzianti berkata:

    Banyak Pr nih…. buat kelpk Ergonomi ….
    Kok cuma mbak yanti aja yg muncul… ? Si om Erwin ma bu Vera kemana ? Jwb dongg…. pertyaanku….. udah dua minggu nih… ntar kadaluarsa loh ….
    Aku ulang ya pertanyaanku….
    Saya setuju sekali dengan kalimat bijak berikut ini ” Mesin tidak seharusnya mengatur manusia, untuk itu bebanilah manusia (operator/pekerja) dengan tugas-tugas yang manusiawi.” Kalau ada perusahaan / tempat kerja yang tidak ergonomis bagaimana tanggapan kita sebaiknya ? Apa yang harus kita lakukan ? MOhon tanggapan dari kelompok 5 , terimkasih….

Komentar ditutup.